Kehilangan, abstrak yang nyata!


Mungkin sebagian orang berpikir bahwa orang yang menangis karena satu masalah adalah orang yang lemah. Sebagian orang yang tak mengerti menganggap orang yang menangis akibat ditimpa kesedihan adalah orang yang lemah imannya. Bahkan seseorang yang menangis karna kehilangan dianggap begitu bodoh.

Tapi bagaimana jika orang yang mengerti itu berada di posisi tersebut? Berada dalam masalah atau ditimpa kesedihan atau merasa kehilangan?

Orang yang tak mengerti itulah saya. Ya, SAYA!

Saya dahulu berprinsip, bahwa menangis itu hanya disaat kita tak tahan menahan sakit. Namun semua itu perlahan berubah, saat saya kehilangan kakek yang sangat saya cintai. Almarhum meninggal saat saya duduk di kelas 1 SMP. Di saat saya sangat dekat dengannya. Namun Allah menetapkan Almarhum harus kembali kepada-Nya. Saya tak punya kuasa apa-apa. Saya merasa kehilangan. Ya, begitu kehilangan.
Sewaktu perpisahan SD, saya menangis. Tapi saya menangis karna teman-teman saya menangis. Saya hanya ikut-ikutan, dan tak tahu apa artinya. Saya hanya terisak tanpa arti, saya belum mengerti arti perpisahan saat itu. Saat acara itu usai dan saya pulang ke rumah, saya kembali tertawa tanpa beban dan seolah melupakan acara perpisahan itu.
Namun seiring berjalannya waktu, saya kini tahu apa artinya sebuah kehilangan, saya mengerti apa makna sebuah perpisahan di dunia yang fana ini.

Apa arti sebuah kehilangan? Apa arti sebuah perpisahan?

Saya pikir, kehilangan itu tak bisa terpelas dari perpisahan. Namun perpisahan tidak selalu berkait dengan kehilangan.
Kehilangan itu abstrak. Kehilangan itu adalah kekosongan pandangan mata kita. Bukankah kita merasa kehilangan di saat kita tak bisa lagi melihat sosok seseorang atau kehadiran suatu benda di sekitar kita?
Sedangkan perpisahan adalah akhir dari sebuah pertemuan. Perpisahan adalah di saat kita berada di sebuah jalan raya, dan tiba-tiba saya memilih belok kanan, tetapi yang lain malah memilih belok kiri. Perpisahan itu alamiah terjadi, dan akan terus terjadi setelah sebuah pertemuan selama kita hidup di dunia.

Ya, saya rasa kehilangan itu abstrak. Namun percayakah saya baru saja merasakan kehilangan, namun pandangan saya tak kosong, saya masih melihat sosoknya, tapi saya merasakan kehilangannya?

Ya, saya kehilangan seorang yang sudah lama saya sayangi. Bertahun-tahun kami berpisah, dan tahun lalu kami bertemu kembali. Namun hanya beberapa bulan kerinduan saya akannya terobati. Setelah beberapa bulan ia perlahan menghilang. Saya sering bertemu dengannya, berbincang-bincang, bercerita, berdiskusi, berjalan berdampingan, tapi saya merasa kehilangan! HATI SAYALAH YANG KOSONG! KOSONG!

Saya bermimpi ia akan menjadi salah satu sahabat terbaik sepanjang masa. Namun ternyata, saya hidup di sebuah dunia fana, saya bukan seorang yang hidup di negeri dongeng. Saya tak bisa bermimpi. Saya tak bisa hanya berkhayal.

Saya kehilangan sosok sahabat dalam dirinya. Saya termasuk orang sangat membedakan sebuah nama “sahabat” dengan “teman”. Saya sangat mengemaskan sebuah sebutan sahabat. Saya tak mudah menganggap seseorang sahabat. Seseorang yang menjadi tempat curhat bukan berarti seorang sahabat. Mungkin ia adalah teman yang sangat baik, namun ia belum bisa saya panggil sahabat.

Namun ternyata, seseorang yang sangat bangga saya publikasikan sebagai salah satu sahabat terbaik saya telah HILANG! SAYA KEHILANGAN!

Tahukah anda, seseorang yang tak mengerti itu menangis saat sahabatnya hilang!
Seseorang yang tak mengerti itu akhirnya menangis seperti orang bodoh!
Hahaha!

Itulah saya, yang menyepelekan sebuah kehilangan, dan terlalu mengagungkan persahabatan.

Satu yang saya pelajari : SAHABAT BUKAN HANYA SEBUAH SEBUTAN STATUS, TAPI BAGAIMANA MEREKA MENGISI KEKOSONGAN HATI !

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. (Ali bin Abi Thalib)

saya sadar akan itu, dan belajar untuk tidak lagi bodoh dipermainkan oleh seseorang. Untuk lebih pintar dalam mencari sosok yang bisa mengisi kekosongan hati.

Di saat anda sedih, kecewa, kehilangan, jangan malu untuk menangis! Tangis bukan sebuah lambing kelemahan, namun sebuah lambang kesucian dan ketulusan hati untuk tersakiti oleh manusia. Tangis adalah lambang bahwa seseorang memohon ampun kepada Allah YME dan meminta kekuatan kepada-Nya. Dan berharap ia mendapatkan sosok baru yang lebih baik kelak. Karena ia percaya bahwa Allah tahu yang terbaik untuknya.

Bersiaplah kehilangan, selama anda masih berada di dunia yang fana ini.

Satu hal yang tak akan pernah hilang adalah KEYAKINAN KITA KEPADA KASIH SAYANG DAN KEBERADAAN ALLAH SWT DAN RASULULLAH SAW SEBAGAI KEKASIH-NYA!

.megaisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s