BUDAYA ISLAMI YANG TERKIKIS GLOBALISASI


BUDAYA ISLAMI YANG TERKIKIS GLOBALISASI
Oleh : Mega Liani Putri (X.3)

Globalisasi kini semakin menunjukkan kekuatannya. Kebudayaan yang diturunkan oleh nenek moyang kita beratus-ratus tahun yang lalu telah mulai menghilang dari keberadaan. Globalisasi membuka luas mata masyarakat awam tentang apa yang sedang terjadi di Negara asing terutama Negara maju di belahan barat. Masyarakat Minangkabau, yang dinilai memiliki nilai-nilai kebudayaan yang tinggi, pun mulai melirik kebudayaan asing daripada kebudayaan turunan nenek moyang mereka.

Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Kalimat itulah yang menjadi falsafah hidup orang Minangkabau. Syarak berarti Agama Islam, sedangkan kitabullah adalah Al-Qur’an. Jadi dapat dianalogikan bahwa kebudayaan Minangkabau berlandaskan kepada syari’at agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Terbukti memang, banyak kebudayaan Minangkabau yang memang diadaptasi dari ajaran Islam. Sebagai contoh, perempuan di Minangkabau memakai baju kuruang dalam kehidupan sehari-hari.

Pada abad ke-21 ini, sangat jarang kita melihat perempuan Minangkabau yang memakai baju kuruang seperti yang dibudayakan. Baju kuruang adalah semacam baju yang longgar (tidak ketat), tebal (tidak transparan, tidak menerawang, tidak tembus pandang), sopan, tertutup mulai dari leher sampai ke mata kaki dan dihiasi dengan tutup kepala (jilbab, kerudung) yang bentuknya beraneka ragam sesuai dengan daerah asal yang lebih spesifik. Jangankan generasi muda, perempuan dewasa yang telah menikah pun kini telah jarang ditemui memakai baju kuruang. Ada apa dengan masyarakat Minangkabau?

Baju kuruang cenderung di nilai kuno dan tidak lagi fashionable. Banyak kalangan yang menilai bahwa baju kuruang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman masa kini. Apakah itu benar? Saya pikir kalangan yang berpendapat seperti ini adalah orang-orang yang sudah dicuci otaknya oleh kebudayaan asing. Pakaian tujuan utamanya adalah menutup aurat bukan hanya untuk bergaya. Sebuah kebudayaan adalah sesuatu yang abadi dan akan terus turun temurun kepada generasi selanjutnya. Apakah kita dilarang untuk menyesuaikan dengan zaman? Tentu saja tidak. Kita tentu menyesuaikan dengan zaman, yang terpenting adalah tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah tertanam sejak lama.

Inti dari baju kuruang adalah longgar (tidak ketat), tebal (tidak transparan), sopan, tertutup, dan memakai kerudung. Itulah kebudayaan Minangkabau yang berlandaskan kepada agama Islam. Memang pakaian seperti inilah yang diperintahkan Allah SWT kepada perempuan. Pakaian ketat, transparan, terbuka, dan tidak memakai jilbab bukanlah budaya orang Minangkabau. Itu merupakan kebudayaan asing yang sangat bertentangan dengan kebudayaan kita sendiri.

Globalisasi bukan berarti mencontoh segala hal yang terjadi dan sedang booming di Negara maju. Globalisasi membuka mata kita untuk mencontoh nilai-nilai positif dari kebudayaan masyarakat luar. Positif sendiri dapat dinilai dengan berlandaskan dengan nilai kebudayaan Minangkabau dan terutama ajaran Agama Islam. Bukalah mata anda, tapi juga buka hati dan pikiran anda. Apakah itu sesuatu pantas anda tiru, hati nurani andalah yang berbicara. Jangan hanya memperturutkan hawa nafsu.

Globalisasi bukan hanya meniru Negara lain atau belajar dari mereka. Namun globalisasi juga membuka peluang bagi kita, masyarakat Minangkabau, untuk menunjukkan jati diri kita di mata dunia. Mengapa tidak kita yang menjadi tauladan dan inspirasi bagi mereka? Kita bisa dan kita mampu jika kita mau! Kebudayaan Minangkabau memiliki nilai-nilai yang amat luar biasa. Kalau bukan kita yang menjaga nilai-nilai kebudayaan itu, siapa lagi? Apakah nilai-nilai yang luar biasa itu berakhir di tangan kita?

Baju kuruang bisa mengikuti perkembangan zaman. Banyak baju muslimah yang dijual di pasaran walaupun tidak sebanding dengan baju – baju impor dari Negara asing. Inilah tantangan bagi kita. Apakah kita mampu menjatuhkan pilihan untuk berpakaian muslimah atau setidaknya cocok dengan ciri – ciri baju kuruang? Memakai rok, baju yang tidak ketat dan transparan, dan jilbab yang menutupi data itu sudah cukup dikatakan sebagai baju kuruang. Pilihan warna pun dapat disesuaikan dengan zaman, toh itu tidak dilarang. Itu semua hanya tergantung kreatifitas kita memadu-padankan pakaian yang akan kita gunakan.

Malaysia merupakan salah satu begara yang masil kental kebudayaannya yaitu Melayu. Pakaiannya pun mirip dengan baju kuruang Minangkabau. Mereka masih mempertahankan sampai kini. Mereka tetap tampil modis dan anggun dengan memakai baju-baju yang sopan itu. Kita bisa lihat dari mahasiswi asli Malaysia di Kota Padang. Mereka percaya diri mempertahankan kebudayaan bangsanya. Mereka menunjukkan jadi diri mereka di negeri orang. Mengapa kita sendiri malu menunjukkan jati diri di negeri kita sendiri?

Ajaran Islam tidak pernah lekang oleh waktu. Jika memang sebuah kebudayaan Minangkabau berlandaskan kepada ajaran Islam, maka tentu kebudayaan itu wajib dipertahankan sepanjang masa. Manusia dianugerahkan pikiran untuk memilah sisi positif dan negatif. Zaman boleh terus berkembang namun jangan pernah melupakan kodrat kita sebagai generasi penerus Minangkabau dan penerus penegak panji-panji Islam. Gunakan akal dan pikiran untuk terus maju dengan tetap berlandaskan nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

*telah dimuat di MEDIA SMANSA (MAJALAH SEKOLAH SMAN 1 PADANG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s