DAMPAK KETERGANTUNGAN SISWA TERHADAP BUKU REFERENSI


KETERGANTUNGAN SISWA TERHADAP BUKU REFERENSI

Oleh : MEGA LIANI PUTRI

Tahun pelajaran 2010-2011 telah datang. Siswa baru ataupun siswa yang telah naik kelas kembali sibuk bersekolah. Pelajaran baru dan guru baru siap menyambut. Pelajaran baru, berarti buku baru. Apalagi pada zaman modern seperti saat ini. Buku pegangan atau referensi seperti wajib bagi setiap siswa. Ada guru yang mewajibkan buku cetak, ada guru yang mewajibkan Lembaran Kerja Siswa bagi setiap siswanya. Ada guru yang mewajibkan membeli di sekolah, ada juga membolehkan membeli di luar sekolah. Buku seperti sesuatu yang tidak bias tidak ada. Tanpa buku, guru pun menjadi percuma.

Di pertemuan pertama, beberapa siswa pun langsung menanyakan, “Apa buku cetak untuk kita buk?” ada guru yang langsung menjawab dengan memberitahukan penerbitnya. Bahkan ada guru yang langsung membawa buku-buku cetak atau LKS ke kelas dan mewajibkan setiap siswa membelinya. Dan nanti uang pemebeliannya di kumpulkan ke bendahara. Ada siswa yang antusiasa membeli buku itu (anak-anak yang bertanya tadi), namun ada pula siswa-siswa yang bertampang ragu dan putus asa. Siapakah siswa-siswa yang bertampang ragu ini?

Kita menyadari di sekolah bahkan di kelas terdapat perbedaan kemampuan siswa dari segi finansial. Ada yang hartanya berlimpah ruah, ada yang mampu, dan ada yang tidak mampu. Tidak semua siswa memiliki orang tua yang berpenghasilan menengah ke atas. Bahkan tidak semua siswa memiliki orang tua yang bekerja. Karena perbedaan inilah sebuah masalah muncul, pantaskah setiap siswa wajib memiliki buku pegangan?

Memang, memiliki tidak berarti selalu membeli. Bisa saja siswa meminjam kepada kenalan meraka atau perpustakaan. Namun keberuntungan tidak selalu berpihak kepada kita. Siapakah yang bisa disalahkan? Teman-teman mereka yang mampu, atau guru mereka, atau bahkan para pemerintah? Saya sendiri merasa sangat prihatin dengan keputusan para guru yang mewajibkan siswanya memiliki buku, apalagi yang mewajibkan siswa membeli buku di sekolah.

Apakah tidak bisa kita kembali ke zaman dahulu, di mana para siswa tidak diharuskan memiliki bahkan membeli buku. Mereka hanya diwajibkan memiliki sebuah catatan. Pada zaman dahulu para guru menerangkan. Jadi para murid tinggal mencatat materi yang diterangkan guru. Dan materi itulah yang keluar di ujian. Namun sekarang semua berbeda. Sekarang kita telah berada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Keaktifan siswa lebih diminta dalam pembelajaran. Guru hanya mengambil alih 20% proses pembelajaran. Siswa harus lebih aktif dalam mencari sumber dan lebih dahulu menguasai materi yang diajarkan selanjutnya.

Menurut saya atas dasar tersebutlah siswa diwajibkan membeli buku. Mereka harus membaca materi dahulu di rumah dan di sekolah mereka hanya mendiskusikan materi itu. Guru sebagai penengah di antara siswa dan menerangkan hal yang dirasa sukar oleh siswa. Namun apakah sistem ini efektif? Apakah dengan sistem ini siswa benar-benar menguasai materi? Satu hal yang dapat saya rasakan sebagai akibat dari sistem ini, guru tidak lagi disegani oleh siswa.

Guru dirasa hanya sebagai pelengkap. Guru mereka adalah buku. Bukan guru yang duduk di depan kelas. Mereka tidak lagi memerhatikan guru menerangkan karena semua materi ada di buku. Materi ujian pun ada di buku. Mereka tidak perlu khawatir lagi.
Akibat selanjutnya adalah pendidikan moral pun terkesampingkan. Karena siswa merasa tidak penting lagi mendengarkan guru menerangkan pelajaran. Padahal tidak semua yang guru terangkan itu materi pelajaran, namun juga pendidikan moral. Tak jarang timbullah anak didik yang tidak menghormati dan menghargai guru mereka.

Saya lebih menghargai keputusan guru yang membebaskan siswa memiliki referensi dari mana saja. Boleh dari buku atau internet. Buku pun tidak ditentukan penerbitnya. Karena ilmu tidak hanya di dapat dari buku. Guru juga seharusnya tidak hanya menyuruh para murid membaca dan menghafal, tapi guru hendak pula menerangkan materi itu. Karena dengan melihat dan mendengar ilmu lebih lengket di kepala.

Masih ada satu pertanyaan lagi yang belum terjawab, siapakah yang harus disalahkan? Jawabannya tergantung kepada masing-masing individu. Ini semua relatif. Ada sisi positif dan negatif dari kewajiban memiliki buku bagi setiap siswa. Sisi positifnya, siswa dapat belajar mandiri dan memiliki wawasan yang luas. Namun sisi negatifnya, siswa yng tak mampu menjadi terbebani. Sosok guru pun telah digantikan oleh sebuah buku. Sehingga banyak siswa yang tidak lagi menghargai sosok guru mereka.

Marilah kita mencoba membuat dampak positif sebanyak-banyak daripada dampak negatif. Mari kita semua mencoba mengurangi semua kekurangan. Kita perbaiki yang dapat kita benah. Kebijaksanaan pun harus diperbaiki. Pertimbangan-pertimbangan harus ditetapkan sebijak mungkin. Jangan lagi hanya menguntungkan satu pihak. Sehingga semua mendapat keuntungan dan tidak ada lagi yangmengeluh dengan kewajiban memiliki buku.

6 thoughts on “DAMPAK KETERGANTUNGAN SISWA TERHADAP BUKU REFERENSI

  1. (baru caliak, good!)
    bang setuju dg akibat guru tdk lagi d segani oleh siswa, namun raso abang, sebab yg itu hanya sebagian kecil.
    menurut abang hal utama yg mambuek guru ndak d segani lagi krn guru skrg banyak yg kekurangan mental pendidik, knp? jawabannya:
    banyak generasi kini yg “overbook” menjadi guru, padahal dlm menempuh ilmu menjadi guru, calon guru akan belajar tentang mendidik. nah…klw d hubungkan dg soal buku td, mgkin belajar tentang mendidik guru pun harus terfokus pd buku pegangan, jd akibatnya yo takah itu…
    kesimpulan: “kesalahan terbesar bukan pd org lain atw sekitar anda, tp anda sendiri”

  2. wah..benar tuh. gmana mau berhasil negara ini kalau dari pendidik aja udah malas apalagi siswanya……Ini bukan berarti sama menyalahh kinerja guru, tetapi menjadi cambuk atau pemikiran guru tentang cara mendidik. buku memang jendela dunia tetapi guru lah rumah dunia yang mampu mengubah dunia ini…..ok(tlg di comment disini dan di artikel surat utk host family )

    From :IMF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s