Birmingham, AL


Do’aku dikabulkan oleh Allah, aku ingin di host oleh keluarga yang baik, toleransi dengan agama dan segala ibadahku, dan bisa memberikan dampak positif kepadaku dan aku pun sebaliknya.

Orang tua angkatku sangat aktif menjadi volunteer-sukarelawan di berbagai organisasi. Kebanyakan memang organisasi berbasis Kristiani. Mereka begitu taat dengan agama yang mereka anut. Aku tidak melihat sisi itu. Aku melihat sisi ketulusan mereka untuk membantu publik.

Ketika mereka memberi tahuku bahwa ada trip ke Birmingham, AL, tepatnya di daerah bencana tornado, tanpa ragu aku katakan ya! Aku ingin ikut dan merasakan bagaimana bekerja secara sukarela, tulus membantu tanpa mengharap balas. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya aktivitas kemanusiaan di Amerika. Dan akhirnya, berangkatlah kami (aku, Mom, dan Dad) bersama tim Mennonite Disaster Service ke Birmingham, AL.

Kami sampai di Birmingham hari Minggu, 29/1, siang hari. Dari bandara, kami langsung menuju The New Victory Church of God, gereja tempat kami menginap. Setelah menyantap makan siang, kami pergi mengunjungi lokasi bencana. Masya Allah. Begitu banyak rumah yang rusak parah. Beberapa rumah bertuliskan N/G yang berarti Not Good-tidak layak huni. Banyak pohon yang tumbang. Miris melihat pemandangan itu. Malamnya kami briefing dipimpin oleh Kerry, project leader untuk daerah bencana Birmingham. Sehabis itu kami menghabiskan malam dengan bermain (aku bermain Quiddler-spelling card game) dan bersosialisasi satu sama lain.

Keesokan harinya kami mulai bekerja. Setiap pagi kami bangun jam 6. Bersih-bersih lalu menyiapkan bekal untuk makan siang. Sarapan mulai jam 7 pagi. Lalu berangkat ke lokasi sekitar jam 8. Lalu kembali ke gereja sebelum jam 5 sore. Timku bekerja di rumah keluarga Taylor. 20 menit dari tempat kami menginap. Tim kami dipandu oleh Jay, lelaki paruh bayah yang menjadi long term volunteer (sukarelawan jangka panjang selama dua bulan). Beliau sangat ramah, baik hati, dan suka senyum! Rekan-rekan yang lain yaitu host-momku, Brooke, Dunne, Jess, Jack, dan Leon. Disana aku membantu mencat jendela, kusen pintu, dan membantu menyiapkan lantai. Hari itu Mrs. Taylor (tuan rumah) datang membawa kopi, teh, pisang, brownies, dan beraneka ragam makanan ringan lainnya. Beliau begitu ramah dan tampak begitu bahagia melihat progres di rumahnya. Raut bahagia itu terukir di kerut wajahnya yang menua. Wajahnya secerah hari itu.

Hari kedua, aku dan Mom pindah lokasi. Awalnya, kami bekerja di rumah keluarga Bank. Kami mencat kusen pintu utama dan belakang. Sekitar jam 10 kami pindah ke rumah keluarga Thomas. Disana ada host-dadku dan Tom. Rumah ini sudah hampir selesai, tinggal di poles di beberapa sudut. Tom dan Dad sedang mengerjakan trims saat kami sampai disana. Lagi, aku membantu mencat kusen pintu dan juga puttying. Sekitar beberapa saat setelah jam makan siang, Mrs. Thomas dan anak laki-lakinya datang berkunjung. Lagi-lagi, aku lihat wajah-wajah yang begitu bahagia. Berkali-kali Mrs. Thomas berucap, “Beautiful! Thank You! Thank You!”

Hari ketiga dan keempat aku dan Mom membantu memasak di dapur. Kami menyiapkan sarapan dan makan malam. Untuk makan siang masing-masing sukarelawan membawa bekal ke lokasi kerja. Nah, hari ketika aku membuat cookies!! snicker doodle cookies!🙂 people loved it❤ hari keempat aku membuat bluberry muffin! selain itu aku juga membantu menyiapkan menu lainnya. Duttie dan Twila adalah sukarelawan tetap di dapur. Mereka adalah wanita paruh baya namun tetap bersemangat! Duttie masih dalam tahap penyembuhan setelah operasi kanker payudara. Beliau sosok yang luar biasa. Penuh semangat dan niat baik. Twila, beliau begitu penyayang. Mudah tersenyum. Suatu malam, Twila mengucapkan "Good night" kepadaku. Lalu beliau cium pipi kiriku dan berkata "Call me Granny. That's how my grandkids call me." Hatiku? Aku begitu terharu. Kamis malam, temanku sesama exchange sstudent dari Indonesia, Erlia datang berkunjung. Kami berbincang sekitar 45 menit! Aku senang sekali bisa bertemu dengan Erlia dan curhat-curhatan. Sehabis makan malam, Mrs. Thomas datang dan berbicara tentang pengalamannya ketika tornado terjadi. Aku kagum. Aku tahu tak mudah untuk membuka kisah lama yang menakutkan dan menceritakannya kepada orang lain. Aku sempat merasakan rasa takut itu. Tapi beliau begitu lancar berbicara dan membuat kami terhenyut.

Hari kelima, hari terakhir. Jum'at, 3 Februari. Aku dan Mom kembali bekerja ke rumah keluarga Bank bersama Dad, Tom, Leon, dan Kathy. Lagi, kami painting dan puttying. Kami kembali ke gereka lebih awal, sebelum jam 1. Kami makan siang, briefing terakhir, lalu berkemas-kemas bersiap pulang. Perpisahan memang selalu menyedihkan. Aku begitu sedih untuk berpisah dengan sahabat-sahabat baruku disini, tepatnya keluarga baruku. Ya, keluarga. Sekuat tenaga aku tahan air mata. Namun tak daya lagi ketika Duttie memelukku erat. Aku, seorang asing dan berbeda, merasa begitu beruntung memiliki mereka yang menganggapku keluarga.

Satu minggu itu takkan pernah kulupakan selama hidupku. Suatu saat aku ingin lagi merasakan bahagia itu, bukan hanya bahagiaku, tapi bahagia mereka, orang-orang yang berhak untuk bahagia juga.

One thought on “Birmingham, AL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s