Gempa 11 April 2012


Pagi ini kuawali dengan rutinitas biasa. Jam 5 pagi aku bangun, tetap berbaring di tempaat tidur sampai Host Mom memanggilku untuk giliran mandi. Aku mandi lalu bersiap pergi sekolah. Jam 5.35 aku turun ke bawah untuk sarapan. Tidak ada yang janggal, masih. Aku siapkan roti panggang dengan Nutella (selai coklat kacang) dan segelas jus jeruk. Lalu aku siapkan pula bekal untuk makan siang, chicken sandwich, chips, dan apel.

Lalu, sperti biasa aku duduk di depan komputer sambil menyantap sarapan. Aku online, log in di Facebook. Aku temukan status Kak Zahrah, senior ku di SMA, tentang gempa di Padang. Astaghfirullah.. Aku cemas. Tapi, ini bukan pertama kali aku mendengar kabar ada gempa di Padang selama aku di Amerika. Namun setelah aku temukan bahwa gempa tersebut berkekuatan 8.9 SR, aku panik. Aku hentikan menyantap roti dan berusaha menghubungi semua sahabat yang sedang online. Aku juga log in di twitter dan menyimak up-date terbaru di Padang.

Ya Allah. Aku cemas. Perutku melilit. Air mataku jatuh. Itulah pertama kalinya aku begitu cemas tentang keluarga dan sahabatku sejak aku pergi merantau. Ya Allah, aku tak tahu lagi harus berbuat apa selain berdoa dan terus berdoa. Sahabat-sahabat yang berhasil kuhubungi mengatakan mereka baik-baik saja. Mereka bilang kalau peringatan tsunami masih ada. Mereka mohon doa.

Ya Allah. Setidaknya aku tahu sahabat-sahabatku baik saja. Tapi bagaimana keluargaku? Apa semuanya di rumah atau Papa masih kerja atau Dinda di sekolah atau kak lani masih kuliah. Pikiran buruk menghantuiku.

Lalu Mom turun untuk sarapan dan seperti biasa menyapaku, “Good Morning, Mega!” Namun kali itu responku berbeda. Aku hampiri beliau dan kupeluk erat-erat. Aku berusaha merangkai kata untuk memberi tahunya ada gempa dan keluargaku dalam bahaya. Namun yang keluar hanya isak tangisku dan satu kata, “Earthquake…”

Mom pun berusaha menenangkanku. Aku tunjukkan berita di internet. Beliau berdoa untuk Padang sambil tetap menggenggap erat pundakku. Aku berusaha berhenti menangis. Aku tenangkan diriku seiring sahabatku makin banyak memberi kabar bahwa Padang masih aman.

“Oh Mega. If like this, I don’t want to let you go. I’ll be crying alone here if something happen to you at home.” Mom said. It took some seconds to get what she said.

Akhirnya aku tetap sekolah. Aku ikuti berita lewat internet sebelum period 1 dan di kelas German. Kebetulan aku belajar di lab komputer. Alhamdulillah tidak ada tsunami. Alhamdulillah! Alhamdulillah! Sekarang perasaanku jauh lebih tenang. Apalagi baru saja aku check email dan aku mendapat kabar dari kakakku bahwa keluargaku baik-baik saja. Alhamdulillah! Alhamdulillah! Terima Kasih Ya Allah.. Terima kasih telah melindungi kelaurga dan sahabatku…

One thought on “Gempa 11 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s