Kedai Kopi


rintik hujan turun di tengah siang
aku ingin panas matahari
mengeluh pun tak ada arti
karna hujan datang ada alasan
aku berlari saja tak ingin basah
namun apalah daya
menerjang hujan namanya
kalau tidak basah apalagi
berlama diguyur hujan, aku sadar satu hal
aku dingin dan lelah berlari
kududuk di depan kedai kopi
ada hawa hangat yang tercium dari celah jendela
aku dekati, teduh dan hangat
ada denting-denting cangkir kudengar
dan ada percakapan santai
ingin kumasuk, meneguk secangkir saja
namun aku basah, aku malu
kuputuskan tuk berlari saja, segera pulang
aku pikir aku pun punya kopi dan air hangat di rumah
basah kuyup kuraih pintu
berganti pakaian, aku menyelinap ke dapur
di tempat yang kupercaya tersimpan kopi,
kutemukan kosong, tidak ada lagi
lalu harum kedai membayang membuatku benar-benar ingin
aku raih payung dan berjalan santai saja
menikmati hujan kali ini
sesampai disana, aku temukan sang jendela tertutup rapat
dan kubaca tanda di depan pintunya, “TUTUP”
aku kecewa sedalam-dalamnya
sedih dan menyesal
kenapa tak masuk saja aku waktu itu?
sayang, terlambat sudah
aku balik badan dan berjalan pulang
kali ini aku tertunduk patah hati
kubiarkan saja sepatu-sepatu basah menerjang genangan air
yang seenaknya saja menertawakanku

-megaisme,
selagi menunggu hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s