Ketika Rindu Menyapa


Aku menangis membacanya. Aku tahu semua hanya lelucon, tapi seperti biasa, leluconmu menyakitkan. Kau bilang aku tidak berubah, masih keras kepala. Kau toh juga tidak berubah.

Aku menangis membacanya. Aku tahu kau disana mungkin sedang bosan. Aku tahu mungkin kau rindu untuk menyapaku dengan leluconmu yang tak lucu.

Aku menangis membacanya. Aku disapa oleh rindu dari seorang sahabat yang dekat namun tak pernah berjumpa. Aku disapa dengan katamu yang seperti biasa, menyakitkan dan membuatku geram.

Aku menangis membacanya. Di sela-sela kata-katamu yang tak lucu, kau selipkan satu kata yang membuatku makin pilu. Kata yang mengingatku bahwa aku selalu menjadi pihak yang tak pernah ingat. Aku benci membacanya dan tersadar aku tak mengingat apa yang kau ingat. Dari dulu kau begitu, kau tidak berubah juga, kan?

Mungkin aku harus selalu begini, ketika rindu menyapa…

… atau mungkin lebih tepatnya, ketika seorang sahabat ingin mengeluh, namun tidak menemukan kata yang tepat. Aku tahu kau, kau tak berubah.

One thought on “Ketika Rindu Menyapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s