Ketika Mencapai Cita menjadi Malapetaka Bangsa


Bandung, 4 September 2014

 

Geram, sedih, kecewa. Mungkin ini yang Anda rasakan saat “kakak senior” Anda menjadi headline koran hari ini yang membicarakan dirinya sebagai tersangka kasus korupsi. Atau mungkin, Anda biasa-biasa saja? Tidak merasa ada ikatan dengan dia yang dulu juga pernah belajar di ruangan kelas yang kini Anda duduki? Atau mungkin Anda tidak tahu kalau Jero Wacik adalah alumni kampus kita?

Menjelang siang hari ini saya mencari koran seperti biasa di sekre unit Pers Mahasiswa ITB. Sepulang dari praktikum Matematika Rekayasa, salah seorang teman mengirim pesan ke telepon genggam saya agar saya bisa singgah ke sekre siang itu. Tak disangka, artikel besar tentang penangkapan Jero Wacik sebagai tersangka KPK-lah yang saya temui di halaman depan. “Oh Tuhan, lagi-lagi alumni kami?

Saya baca di artikel tersebut bahwa sektor migas memang rawan kasus korupsi. Ya, energi dan sumber daya mineral adalah sektor pemerintahan tempat Jero Wacik mengabdi beserta mungkin ratusan (bahkan lebih) alumni ITB lainnya. Apakah kini mereka semua terjebak disana, terpaksa, tak sengaja, atau malah memilih cara hina itu untuk meraih target perusahaan ataupun lembaga?

Saya tidak pernah tahu. Saya tidak pernah bertemu mereka. Saya tidak pernah berbincang dengan mereka. Saya tidak pernah mewawancarai mereka tentang bagaimana sebenarnya pekerjaan di kursi empuk sana. Saya hanya bisa mencari refleksi mereka sebagai seorang “kakak senior”. Ya, momen ini menjadi momen refleksi bagi saya. Saya pun terbayang jika 20-30 tahun lagi saya melihat sahabat-sahabat yang gagah muncul di TV bukan karena prestasi melainkan korupsi. Na’udzubillah.

Kampus adalah tempat kita tumbuh dewasa dan menjadi sosok yang siap terjun ke masyarakat dengan keilmuan atau keprofesian yang telah kita pilih. Selain pendidikan formal, ada pula kegiatan kemahasiswaan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengeksplor minat, bakat, dan softskill masing-masing. Selain dididik dengan materi perkuliahan, di kampus kita semua juga ditanamkan nilai-nilai yang sadar atau tidak sadar diberikan melalui sebuah proses berkelanjutan bernama “Kaderisasi”.

Sekali lagi, kasus diatas memicu keinginan saya untuk berefleksi. Saat bekerja, berapapun usia seseorang, saya percaya bahwa ada nilai-nilai yang melekat di dalam diri mereka yang menjadi dasar atau idealisme dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Entah nilai-nilai itu telah tertanam sejak kecil, remaja, atau saat telah dewasa. Entah nilai-nilai itu dibawa dari tanah kelahiran, komunitas bergaul, rumah, atau kampus. Bagaimanapun saya yakin, proses pendidikan dan pendewasaan selama di perguruan tinggi termasuk step yang penting dalam penanaman nilai-nilai dalam diri.

Saya telah menjadi bagian dari kampus ini lebih kurang satu tahun. Saya telah menjadi kaderisasi terpusat (OSKM), kaderisasi unit, dan sedang menjalani kaderisasi untuk menjadi anggota himpunan mahasiswa jurusan. Saya akui, dalam menjalani semua kegiatan kemahasiswaan, saya menemukan nilai-nilai tentang disiplin, bertanggungjawab, berkomitmen, menjadi seorang yang idealis (mempunyai tujuan), dan sebagainya. Saya ingat sekali bagaimana mulai dari OSKM dan juga saat ada training Strategi Sukses di Kampus saya dibimbing untuk memiliki tujuan hidup yang berlandaskan ketuhanan dan tujuan selama kuliah di ITB yang jelas dan sistematis (berurut). Saya juga belajar bahwa pentingnya kesadaran untuk mencapai tujuan bersama saat berorganisasi. Kaderisasi yang telah saya jalani lebih banyak berbicara tentang hal-hal futuristik serta berbicara tentang posisi, potensi, dan peran yang dapat saya jalani selama menjadi bagian dari oraganisasi tertentu atau masyarakat secara luas.

Saat saya sebutkan “penanaman nilai” tadi, apa yang Anda bayangkan? Nilai tentang apa yang Anda harapkan? Terlepas Anda adalah mahasiswa ITB atau tidak, Anda tentunya punya pandangan tersendiri tentang nilai-nilai yang selayaknya dimiliki oleh seorang mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa.

Adakah diantara Anda yang membayangkan nilai “moral”?

Jujur, saya sejak dulu menyangka bahwa moral-lah nilai yang akan ditanamkan dalam setiap proses kaderisasi. Namun ternyata, yang mendominasi adalah nilai-nilai profil kader yang lebih menjurus akan keprofesian atau bidang yang mencakup organisasi tersebut. Sedangkan moral secara universal, menurut saya, belum dikupas dan ditanamkan secara blak-blakan. Nilai-nilai moral seperti integritas, empati, solidaritas, dan kemanusiaan belum menjadi hal yang diutamakan.

Saya mungkin saja belum sampai ke tahap penanaman nilai-nilai moral tersebut. Saya masih di tingkat dua dan saya paham bahwa kaderisasi adalah proses yang berkelanjutan. Ada “penurunan nilai” yang berjenjang sesuai tingkatannya. Namun, menurut hemat saya, nilai-nilai moral harus selalu dijaga dan ditanamkan di kesempatan manapun, baik itu tingkat satu, dua, tiga, ataupun tingkat akhir, baik itu di unit, himpunan, maupun KM ITB secara keseluruhan.

Nilai-nilai moral tidak hanya pantas dibahas oleh organisasi-organisasi agama. Nilai-nilai moral tidak hanya pantas dibahas oleh organisasi-organisasi kemanusiaan. Moral, apapun agamanya, apapun minatnya, apapun profesinya, setiap orang wajib menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang mulia di mana pun mereka berada. Saya percaya bahwa nilai moral adalah nilai universal yang mempunyai parameter yang sama karena cukup dengan menjadi manusia Anda bisa mengerti situasi manusia lainnya. Anda tidak hidup sendiri, ada orang lain. Tidak hanya Anda yang mempunyai cita-cita, ada orang lain. Tidak hanya Anda yang ingin bahagia, ada mereka yang sedang menangis meminta bahagia. Moral adalah nilai tentang Anda menjadi manusia di antara manusia lainnya.

Saya takut bahwa dominasi nilai-nilai “pemikiran” memudarkan potensi “perasaan” putra-putri terbaik bangsa. Saya percaya bahwa hari ini moral belum terlupakan. Nilai-nilai moral sepantasnya terus ditanamkan kepada generasi penerus bangsa agar karakter dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia tidak memudar. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, hikmah kebijaksanaan, dan keadilan adalah identitas kita. Nilai-nilai moral yang mampu menjaga kelima poin tersebut seharusnya tetap menjadi landasan kita dalam berbangsa. Menjadi pemimpi, menjadi penggagas masa depan dengan cita-cita adalah luar biasa. Namun, tanpa moral, kesuksesan kita kelak hanya akan menjadi malapetaka bagi anak-cucu Ibu Pertiwi di bumi Indonesia.

 

Mohon ajarkan dan ingatkan saya selalu,

Mega

6 thoughts on “Ketika Mencapai Cita menjadi Malapetaka Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s