Lima Tahun Biru


Kata itu biru.

Langit

laut

dan hatimu.

Menulis itu kumulai sejak dulu. Sejak yang ku kenal hanya kasih sayang Mama. Sejak aku masih belum menemukan kelembutan hati Papa. Sejak yang ku mengerti hanya berpuisi untuk melepaskan penat. Sejak opiniku hanya tentang kata-kata yang tak berani kuucapkan.

Kini, kata itu meluas. Kini kasih sayang tidak hanya dari rumahku, sayang juga membelaiku dari ujung dunia. Sayang pun ku dapat dari guru-guru yang mengantarkanku ke masa depan. Sayang aku terima dari mereka yang membuat riuh hari-hariku di sekolah.

Kini, kata itu mendalam. Aku semakin mencintai dua orang istimewa yang dipercaya oleh Allah; Mama dan Papa. Dalam diam aku temukan dalamnya cinta. Dalam perjalananku aku temukan tulusnya kepercayaan yang harus kupertahankan. Aku temukan kelembutan hati Papa yang bisa menangis saat aku melangkah pergi. Aku temukan kelembutan hati Mama yang menguatkanku untuk terus melangkah mencapai mimpi-mimpi.

Kini, kata itu menyejukkan. Aku selalu temukan ketenangan dalam kata-kata yang aku tuliskan untuk entah siapa yang membaca. Aku selalu mencintai momen ketika hati ini terasa begitu ringan setelah kata itu kulepaskan begitu saja hingga aku bebas sebebas-bebasnya. Hanya kata yang mampu mendinginkan amarah. Hanya kata yang mampu memelukku ketika sepi. Hanya kata yang mampu menitipkan rasa kepada yang dirindu.

Kini, kata itu biru. Bercerita tentang langit, laut, dan hatimu. Antara itu, hidup sedang bercerita dan aku akan tuliskan untukmu yang senantiasa setia.

Happy 5th year of blogging!

Megaisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s