Pancing Kelapa Sawit


???????????????????????????????Momen liburan awal tahun 2015 keluarga saya manfaatkan untuk berlibur di Riau. Kami mengunjungi keluarga adik Papa yang berdomisilli di Rumbai, Pekanbaru. Setelah itu kami juga menuju Duri untuk mengunjungi sepupu saya yang telah bekerja di sana.

Ada yang pemandangan yang menarik di sepanjang perjalanan menyusuri provinsi Riau. Di sisi kiri-kanan jalan, mata disegarkan oleh hamparan kebun kelapa sawit. Pohon kelapa sawit ditanam rapi dengan jarak yang teratur. Saya yang berada di dalam mobil suka sekali mengamati pohon-pohon yang begitu rapi; seiring mobil bergerak menjauh, pohon-pohon itu tetap dalam keteraturannya sampai mata saya tidak dapat melihatnya lagi. Barisan pohon-pohon itu seperti pasukan baris-berbaris. Dari sudut manapun kamu melihatnya, mereka tetap berdiri di barisan yang sejajar.

Pemandangan itu lalu mengundang obrolan seru di dalam mobil. Saya bertanya kepada Pak Etek, adik Papa, yang duduk di bangku di sebelah sopir.

Lah bara umua kelapa sawit nan sagadang tu tu, Pak Etek? – Sudah berapa umur kelapa sawit yang sebesar itu, Pak Etek?”

Pak Etek menjawab, “Itu alah sapuluah – limo baleh tahun tu, Mega – Itu sudah sepuluh – lima belas tahun, Mega.”

Lalu Mama berceloteh, “Yo santiang juo Pak Soeharto ko dulu ndak, diagiahnyo karajo urang jo kelapa sawit ko. Ko lah dari zaman Soeharto ko, Ga. Caliaklah kini, kayo Riau jadinyo – Pak Soeharto itu cerdas loh, orang-orang dikasih kerjaan untuk mengurus kelapa sawit. Ini udah dari zaman Soeharto, Ga. Lihat sekarang, Riau jadi kaya.”

Wow, saya pun terkagum-kagum. Tentu saja ya Riau menjadi kaya begini. Selain banyaknya kilang migas di darat, di provinsi ini kelapa sawit juga tumbuh subur. Saya sempat bertanya-tanya, apakah kelapa sawit ini tumbuh alami di Riau sebanyak ini atau memang ada yang menanam? Terjawablah, ternyata ini berawal dari program Pelita Pak Soeharto. Riau dijadikan lahan untuk kebun kelapa sawit yang dapat dikelola oleh rakyat. Entah siapa saja yang berinvestasi di sana, yang penting rakyat pun mendapatkan banyak keuntungan. Konon katanya  saham Buk Tin masih banyak di sini.

Walaupun Riau hanya tetangga sebelah, namun perkembangannya sudah jauh dibandingkan Sumatera Barat kampung halaman saya. Tentu saja, pendapatan asli daerahnya melambung tinggi dengan kekayaan alamnya yang subur. Ya, walaupun ada kasus korupsi di pemerintahan, setidaknya saya bisa menyaksikan sendiri selama di perjalanan bahwa kehidupan rakyat Riau sudah terbilang mapan.

Jaman kini kan indak, diagiahnyo pitih ampek ratuih ribu. Apo bana lah tu, pai se ka pasa sakali, lah habih pitih tu – zaman sekarang kan engga, cuma dikasih uang empat ratus ribu. Ya apa lah, Cuma untuk pergi ke pasar sekali, terus uangnya habis,” kata Mama.

Iyo tu, ikannyo diagiah, ndak panciang – Betul, ikannya yang dikasih, bukan pancing,” ucap Pak Etek.

Ikannya yang dikasih, bukan pancing.

Saya pun tertegun, benar sekali. Inilah fenomena yang terjadi di pemerintahan baru Indonesia saat ini. Keluarga tidak mampu dilayani pemerintah dengan memberikan kartu-kartu penunjang kesejahteraaan. Pemerintah memberikan uang. Langsung disuapi. Sekali pakai, uangnya habis.

Untuk menunjang keuangan pemerintah agar bisa terus menyuapi uang-uang itu, subsidi dikurangi. Bantuan pemerintah bagi masyaarakat yang lebih luas pun dikurangi agar bisa memanjakan mereka yang memang membutuhkan.

Tapi, apakah hal ini bisa menjamin masa depan mereka yang lebih baik?

Apakah ini hanya membangun penjara bagi mereka untuk tetap berada di level ekonomi tersebut?

Saya tidak akan menjawab ya atau tidak.

Ada hal-hal memang yang harus dipertimbangkan. Lihatlah, kartu pintar mungkin saja dianggap oleh Presiden sebagai investasi sumber daya manusia masa depan. Kalau penyalurannya adil sebagaimana penyaluran Bidik Misi (beasiswa untuk berkuliah di PTN), saya sangat setuju program ini diterapkan. Tak usah buang-buang duit untuk membuatkan kartu sebenarnya. Toh sekarang sudah zaman digital, yang penting databasenya bagus, Pak Presiden. Cuma mungkin ya kalau pakai kartu kan jelas gitu ya, ini lo kartu yang langsung dikasih sama Presiden. Rakyat akan lebih bahagia. Bukan begitu, Pak?

Sekali lagi, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Apakah bangsa ini ingin dibangun dengan mental anak kecil yang hanya menunggu suapan orang tuanya?

Pembangunan ekonomi di zaman Soeharto tidak dipungkiri, bahkan oleh para tetua yang hidup di zaman itu, bahwa sangat pesat dan kesuburannya masih dirasakan sampai saat ini. Salah satunya adalah kelapa sawit yang kini menjadi salah satu sumber pendapat terbesar bagi Indonesia.

Saya tidak ingin melahirkan perdebatan dan membuatmu membantahnya dengan timpalan kasus korupsi di rezim tersebut. Ya, itu terjadi. Namun, saat ini saya sedang mengingatkan bagaimana cara alm. Soeharto membangun kemandirian rakyat-rakyat kecil

Mereka dikasih pancingnya, bukan ikannya. Mereka dikasih pancing untuk mencari penghasilan untuk keluarga. Di kasih kebun untuk mereka garap. Toh, nanti mereka juga mendapatkan cipratan keuntungannya dari bagi hasil dengan investor.

Sekali lagi, pancingnya. Mereka disuruh bekerja. Tidak hanya menunggu, “Kapan ya duit dari pemerintah turun?”

Sekali diberikan pancing, selanjutnya mereka yang mencari ikan.

Hal ini menurut saya akan mengurangi perputaran uang segar di pemerintahan. Dengan investasi tersebut, pemerintah menjadi untung, rakyat pun untung. Keuntungannya tidak instan seperti kebahagiaan setiap kali dana bantuan langsung pemerintah cair sih, tetapi keuntungan yang bisa dipanen oleh kita, anak-anak kita nanti, bahkan sampai cucu-cucu yang mungkin kebahagiaan mereka tidak bisa kita saksikan secara langsung.

Hai kamu! Kamu pengen pancing atau ikannya? Bukan, ini bukan psikotes😉

One thought on “Pancing Kelapa Sawit

  1. Nice interpretation.., kemarin baru saja lewat di tempat yang sama.

    Namun, sawitnya memang banyak, tapi duitnya entah kemana, masyarakat masih banyak yg miskin. Who knows. I wonder, seandainya minyak sawit ini bisa diolah maksimal di dalam negeri, gak perlu langsung ekspor mentah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s