ITB SC: Oase untuk Jiwa Mahasiswa yang Dahaga


Di ITB, ada mata kuliah wajib bernama Agama dan Etika Islam. Saya memutuskan untuk mengambilnya semester ini. Salah satu rangkaian yang harus diikuti oleh peserta kuliah adalah kegiatan ITB Spiritual Camp (ITB SC); kegiatan semacam mabit yang diselenggarakan dari Sabtu siang sampai Minggu pagi di Masjid Salman ITB.

Mungkin setiap mahasiswa Muslim ITB sudah atau akan mengikuti kegiatan ini. Materinya mungkin tak jauh berbeda. Tapi, di sini saya ingin berbagi tentang apa yang saya dapatkan, tentang teguran yang saya temukan di sana… Semoga bermanfaat.

———————————————————————————————-

WAKTU DAN PRIORITAS

Dua-tiga minggu ke belakang saya sempat gusar dengan kesibukan anak ITB, termasuk saya sendiri. Masing-masing orang punya kesibukan yang berbeda. Oleh karena itu, sulit untuk menyatukan waktu atau bahkan untuk sekedar bertemu sebentar. Meminta waktu kawan untuk bertemu barang 30 menit saja susah apalagi meminta waktu untuk berkumpul dengan sekelompok orang (terutama yang berbeda jurusan).

Sempat saya berpikir, sebenarnya bukan waktu yang seharusnya dipersalahkan. Bukan karena waktu yang terbatas tetapi masalah prioritas.

Semua orang tentu punya agenda yang harus dikerjakan. Dalam satu waktu, kadang ada banyak pilihan dan tentu orang memilih apa yang dia prioritaskan.. Karena tubuh manusia tidak bisa menjalani dua ruang yang berbeda pada satu waktu. Jika memang kawan saya bilang tidak bisa datang, berarti urusan saya dengan dia belum menjadi prioritasnya. Sesederhana itu.

Lalu, di ITB SC, panitia memutarkan sebuah video Islami yang sangat inspiratif. Acara itu seperti reality show. Di awal acara, sang presenter membuka dengan kata-kata yang saya sederhanakan seperti ini:

Apakah benar kita tidak punya waktu untuk tilawah (membaca Al-Qur’an)? Begini, coba kalau kasusnya seperti ini. Kamu sangat sibuk. Saking sangat sibuknya, kamu mengalami gangguan kesehatan. Dokter kemudian merekomendasikan kamu untuk olahraga minimal satu jam dalam sehari. Apa yang akan kamu lakukan? Karena kamu ingin sehat, kamu pun pasti akan meluangkan waktu satu jam untuk berolahraga. Lantas bagaimana dengan tilawah? Apakah kamu sudah merasa bahwa itu adalah kebutuhan? Jika berinteraksi dengan Al-Qur’an seperti kamu mencintai kesehatanmu untuk bisa tetap hidup, tentu kamu akan meluangkan banyak waktu untuknya.

Saya tersentak.

Yang saya keluhkan adalah sulitnya menemukan waktu untuk urusan dunia. Namun, saya tidak sadar bahwa urusan akhirat pun saya dengan mudah melalaikannya. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah..

Seharusnya saya risau dengan waktu yang tidak saya luangkan untuk tilawah lebih banyak. Untuk beribadah lebih banyak… Seharusnya saya mulai risau ketika waktu saya hanya dihabiskan untuk kesibukan-kesibukan duniawi yang bahkan manfaatnya dipertanyakan…

Ya Allah, ampuni hamba yang mempermainkan waktu hamba sendiri. Ampuni hamba atas kelalaian hamba selama ini karena urusan dunia.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)

Maafkan juga kawan-kawan, saya mungkin sempat membuat kawan-kawan lalai akan ibadah dan kewajiban sebagai seorang hamba. Saya mohon agar kedepannya kita saling mengingatkan agar dunia tidak mengontrol kita, tetapi kitalah yang mengaturnya agar bisa tetap fokus akan tujuan utama kita: kampung akhirat.

HUJJAH APA YANG AKAN MEMBAWA SAYA KE SURGA?

Pertanyaan yang sudah lama saya pertanyakan.

Di video yang sama, presenter itu kemudian mengunjungi seorang pemuda penghafal Al-Qur’an yang penglihatannya sudah diambil oleh Allah sejak umur empat tahun.

Ada ucapan presenter yang sangat mengena di hati saya, begini saya simpulkan:

Apakah kamu sudah bangga jika di tengah kesibukanmu kamu bisa membaca satu halaman Al-Qur’an? Bagus, bagus karena kamu sudah menyempatkannya. Tapi, tahukah kamu bahwa ada banyak orang dengan keterbatasannya sedang berjuang untuk terus dekat dengan Al-Qur’an. Tidak hanya membaca, bahkan menghafalkannya? Melihat perjuangan mereka, apakah kita masih pantas untuk berlomba dengan mereka untuk masuk ke surga Allah?

Saya membeku. Mata saya terkunci pada si pemuda buta di dalam video. Wajahnya meneduhkan, ia tampak bersemangat menceritakan perjuangannya menemui gurunya untuk belajar Al-Qur’an.

Dengan rendah hati, ia berucap kira-kira seperti ini:

“”Saya tidak marah kepada Allah atas kebutaan saya. Dulu waktu kecil, saya akui, saya sering kesal. Namun sekarang, saya mensyukurinya. Biarlah, biarlah hal ini yang nanti menjadi hujjah (alasan) bagi saya untuk bertemu dengan Allah di surga. Saya ingin bertemu dengan Allah dan berucap, ‘Ya Allah, inilah saya yang dulu penglihatannya Kau ambil.’ Saya tidak ingin penglihatan saya kembali. Biarlah seperti ini. Saya akan jadikan ini hujjah karena saya tidak berhenti belajar Al-Qur’an dengan keterbatasan ini.”

Air mata pun tak tertahankan… Ya Allah… Apa yang bisa saya jadikan hujjah untuk memasuki surga-Mu? Apa yang sudah saya perjuangkan demi imanku kepada-Mu, Ya Allah?

AGAR TIDAK MUDAH LUPA

Memang kodratnya manusia itu pelupa: kadang sering saya jadikan ini alasan… Padahal, lupa adalah sebuah penyakit yang tentu ada yang bisa mencegahnya. Saya dapatkan 3 strategi dari Bapak Agus Syihabudin salah seorang dosen AEI:

1. Menurut Imam Syafi’i, ilmu itu seperti buruan. Sedangkan tulisan adalah ikatannya. Maka, ikatlah buruan-buruan kita dengan ikatan yang kuat. Sia-siabila kita mendapatkan buruan yang banyak, tetapi tidak diikat, maka buruan akan lari kembali. Oleh karena itu, ikatlah ilmu dengan mencatatnya.

2. Ilmu itu selalu memanggil amal. Kalau ilmu tidak diwujudkan dengan amal, maka akan dengan mudah lenyap begitu saja.

3. Seorang pencari ilmu haruslah menghindari maksiat. Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, sementara cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang suka bermaksiat.

Saya pun segera menghayatinya: CATAT – AMALKAN – HINDARI MAKSIAT.

————————————————————————————–

Alhamdulillah… Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan saya kesempatan untuk me-recharge iman saya selamadi ITB SC. Teguran-teguran ini akan melecut saya… melecut saya agar berlari… berlari lebih kencang untuk mencari bekal terbaik, hujjah terbaik, untuk kelak saya persembahkan di Yaumul Hisab.

Semoga Allah membalas semua usaha penyelenggara ITB SC dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda.

Saya pun ingat pesan panitia di akhir acara yaitu diambil dari firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 16 yang artinya:

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”

Setelah menerima ilmu ini, semoga saya dan kawan-kawan yang mengikuti ITB SC tidak membiarkannya saja tanpa ada usaha untuk segera mengamalkan. Semoga hati kita tidak terlanjur mengeras dan semoga kita tidak berakhir sebagai orang yang fasik.

Yang berharap hati ini selalu menemukan penawarnya,

Mega🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s