Jangan Lukai Hati Kami, Saudaraku


Ramadhan sebentar lagi menjelang, Saudaraku. Bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh pahala bahkan untuk orang yang sekedar bergembira menyambutnya. Namun… Menuju Ramadhan ini, ada hal yang janggal yang aku temui di negeriku.

Kenapa sih pada sibuk minta orang yang ga berpuasa untuk menghargai yang berpuasa? Puasa kan intinya menahan hawa nafsu, kok jadi maksa gitu biar ga ada rumah makan yang buka pas Ramadhan?

Sedih, Saudaraku. Baru kali ini aku sepertinya mendengar celotehan-celotehan itu dari saudara Muslimku sendiri.

Sedari dulu, Ramadhan selalu menjadi bulan yang suasananya begitu istimewa di negeri ini. Apalagi di kampung halamanku, di Sumatera Barat. Anak didik pergi pesantren ke Masjid. Jalanan sepi, Masjid yang ramai. Siang-siang rumah makan tutup, baru buka menjelang sore karena orang-orang banyak keluar untuk mencari pabukoan (makanan berbuka atau takjil).

Sudah menjadi budaya… Sudah lama ini menjadi identitas Ramadhan di negeriku ini.

Hal ini sempat aku rindukan kala menjalani Ramadhan di negeri orang, Amerika Serikat. Waktu aku berumur 17 tahun, aku sempat mengikuti program pertukaran pelajar dan  sempat berpuasa di sana.

Tidak ada hiruk pikuk Ramadhan karena di lingkungan host family saya waktu itu, Islam adalah agama minoritas.

Namun, Saudaraku… Orang-orang sangat menghargai saat aku berpuasa. Kalau kau ingin berbicara tentang toleransi yang sebenarnya, mungkin saya bisa bercerita tentang apa itu toleransi yang aku alami…

Mom bangun lebih awal untuk menyediakan sahur untukku.

Host family-ku rela makan malam sangat terlambat (jam 8 malam, biasanya orang sana makan malam jam 6) karena menunggu waktu berbukaku.

Mereka menyiapkan kurma karena tahu kalau orang Islam dianjurkan berbuka dengan kurma.

Saya tidak meminta hal itu kepada host family saya. Mereka melakukannya begitu saja karena mereka “tahu” lalu mereka “menghargai” dengan menyuasanakan rumah sesuai dengan Ramadhan yang seharusnya aku jalani.

Yang aku mengerti sekarang adalah bahwa menutup rumah makan selama Ramadhan itu bukanlah mengenai peraturan (perda atau apapun itu), tetapi malah sudah mengakar sebagai budaya negeri kita, Saudaraku. Hal itu memiliki tujuan untuk benar-benar membuat Ramadhan berbeda dengan waktu yang lain karena ini bulan terbaik untuk banyak beribadah dan yang paling utama adalah berpuasa.

Bahkan, untuk orang yang sama sekali baru “melayani” seorang muslim di rumah mereka, host family-ku sudah begitu menyuasanakan Ramadhan untukku. Apalagi untuk kita yang sudah besar di negeri ini, yang sudah lama hidup dengan tetangga-tetangga yang seiman dengan kita.

Mengapa baru kini, Saudaraku, baru kini kamu membuat definisi “toleransi” yang baru dengan dasar idealisme yang baru kamu temukan setelah kamu “dewasa”? Bukan, ini bukan tentang memaksa. Ini tentang menjalani apa yang seharusnya.

Pernahkah kamu bertanya terlebihi dahulu, kenapa suasana “menghargai orang berpuasa” begitu kental di negeri ini?

Lihatlah, Saudaraku, negeri ini mayoritas umat Muslim, saudara kita seiman. Begitu pula pedagang-pedagang itu, mereka pun kebanyakan adalah Muslim. Maka, menutup rumah makan selama Ramadhan itu adalah himbauan menjaga kita nyaman selama Ramadhan. Tidak hanya aku dan kau, Saudaraku, tetapi juga mereka yang menyajikan makanan.

Bukankah seorang Muslim seharusnya menjaga Muslim lainnya, menyayangi Saudaranya seperti menyayangi dirinya sendiri? Begitulah bangsa ini sudah terbiasa menjalaninya, Saudaraku. Negeri ini sudah terbiasa menyuasanakan Ramadhan untuk Muslim.

Untuk yang tidak berpuasa,aku setuju bila yang kau maksudkan adalah kawan-kawan kita yang tidak seiman. Mari kita hargai mereka dengan tidak menghalangi mereka bila ingin makan. Seperti di kantor, aku pun tidak keberatan jika memang ada satu cafe yang buka untuk menyediakan makan untuk mereka.

Tapi, itu tidak berlaku untuk saudara kita yang seiman tetapi enggan berpuasa. Kita wajib , Saudaraku, untuk menjaga saudara-saudara kita agar untuk saling menjaga di jalan yang benar. Bila ini Ramadhan dan kita tahu dia pun wajib mengerjakannya karena mereka “orang yang beriman”, maka jangan bantu mereka untuk tidak menjalani kewajibannya.

Tolerasi “agamamu untukmu dan agamaku untukku” adalah untuk mereka yang tidak seiman, bukan untuk kita yang sama-sama mengucap syahadat.

Jangan lukai hati kami, Saudaraku. Aku ingin kita sama-sama teguh dalam Islam. Jangan, jangan menjadikan alasan perbedaan kita dengan orang lain untuk perlahan-perlahan mengikis identitas Muslim di negeri ini.

Salahkah kami bila kami berharap suasana Ramadhan masih kental di tanah air ini?

Bagi mereka yang tidak seiman dengan kita, bahkan mungkin mereka lebih tahu cara untuk menghargai kita yang sedang di bulan yang istimewa. Mengapa kita malah meributkan tentang siapa yang harus menghargai, yang berpuasa atau yang tidak berpuasa?

Mari sambut Ramadhan dengan rangkulan kepada saudara-saudara kita yang seiman. Mari kita siapkan suasana terbaik yang membuat kita saling menguatkan demi khusyu’-nya ibadah di bulan yang paling istimewa ini.

Denganmu, Saudaraku, aku berharap negeri ini adalah tempat terbaik untuk menjalani ibadah sebagai seorang Muslim, terutama di Ramadhan yang telah lama kita nanti.

Semoga cahaya Allah selalu menerangi hati kita, Saudaraku.

Salamku untuk damainya Ramadhan di bumi pertiwi,

Mega

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s