Semester 4: Menemukan Hikmah


Dan akhirnya kau berada di dunia ini

Ada waktu yang menggiringmu dan wajah asing yang perlahan menjadi ramah

Tidak ada garis yang kau ulur sampai titik ini

Kau gambarkan semua tapi nyata menjadi berbeda

Bukan kesalahan tapi condong matahari membuatmu mengikuti cahayanya

Ada hening yang asing, ada keributan yang tenggelam daam benakmu

Celah atau retak, ada yang menyahutimu

Tanya yang kau biarkan diam menemukan jawabannya

Untuk seluruh keasingan dan hening yang kau lewati…

adalah hal yang membuatmu yakin bahwa takdir tak pernah menyalahi

Kau kembali menatap jari-jari yang menapak

Mencari hati yang mengawang

“Kau sekarang di sini.”

9 Mei 2015, 10.06 pagi

Puisi ini saya tulis setelah menjelang UAS semester empat. Sabtu pagi itu saya senggang, baru satu ujian yang saya lewati minggu itu. Masih ada 8 ujian lagi yang menunggu.

Saat itu, saya punya waktu untuk diri saya sendiri… untuk merenungi hari-hari yang sudah saya lewati di semester ini… semester yang cukup berat untuk “pikiran” saya.

Alhamdulillah, Teknik Lingkungan adalah tempat yang dipilihkan oleh Allah. Ini adalah bidang yang saya sukai, saya jalani dengan senang semua kewajiban saya disini. Saya mengambil sembilan kelas semester  ini dengan total bobot 22 SKS: Mekanika Fluida II, Mikrobiologi Lingkungan, Hidrologi dan Hidrogeologi, Kimia Lingkungan, Pengelolaan Kualitas Air, Hukum dan Kebijakan Lingkungan (mata kuliah wajib semester 5), Epidemiologi Lingkungan, Agama dan Etika Islam, dan Mekanika Tanah (mata kuliah Teknik Sipil).

Ada dua praktikum yang saya dan Wariga Sangkara jalani di semester ini: Mekanika Fluida (Mekflu) II dan Mikrobiologi Lingkungan (Mikling). Alhamdulillah asisten kami (para senior di TL) baik-baik jadi praktikumnya tidak membebani. Yang membebani itu jurnal dan laporannya -__- hahaha Tapi ya, kalau diambil hikmahnya, dengan bikin dua hal itu kami jadi mikir dan rajin menulis. Soalnya pun pekerjaan kami sangat terkait dengan “pembuatan laporan” hahaha

Membagi Prioritas, Berhenti Mencoba Ini Itu

IMG_4432

Setelah Staffing Kerabat Pers Mahasiswa

Sudah tidak bijak lagi, dengan beban akademik yang makin berat, saya masih sibuk sana-sini di kemahasiswaan. Saya sendiri berpikir, itu bukan tujuan awal saya datang ke ITB. Saya harus berjalan di jalur yang benar, yaitu tetap menjadikan akademik prioritas utama.

Maka, semester ini saya tidak lagi aktif di kabinet, saya pun hanya menjadi anggota biasa di Divisi Diskusi Kreatif HMTL. Di Karisma, sejak semester lalu saya sudah benar-benar vakum (Maaf kepada kawan-kawan Fatih karena saya tidak pernah muncul lagi).

Setelah akademik, hal yang selanjutnya yang saya jalani dengan sungguh-sungguh adalah Pers Mahasiswa ITB karena Februari lalu, saya diamanahi sebagai Pemimpin Umum. Dengan beps-beps (baca: rekan-rekan Badan Pengurus Persma), saya merancang gebrakan-gebrakan oleh Persma. Di kepengurusan saya, kami lebih fokus di media online yaitu www.ganecapos.com dan in sya Allah akan terbit dua kali di dua periode terpilih. Yang terdekat adalah saat Open House Unit nanti J Doakan ya!

IMG_5170

Refreshment bareng Kantor Berita ITB

Selain itu, saya juga tetap di Kantor Berita sebagai reporter dan redaktur English News. You work, you earn, you eat, you happy! J Dengan orang-orang luar biasa di tim Kantor Berita ITB, saya menjalani kewajiban sebagai reporter dengan enjoy. Apalagi, ada refreshment team, seringkali makan-makan dan pernah juga karaokean. Oh ya, tahun ini ada perubahan struktur dengan bergantinya rektor. Kantor Berita tidak di bawah USDI lagi, tetapi di bawah Humas ITB. Sekarang kami jadinya rapat redaksi bersama ibu bos di Annex sekali dua minggu. Agak canggung sih, biasanya rapat redaksi kami santai gitu suasananya. Tapi gapapa… Semoga banyak kebaikan yang menanti kami dengan berada di bawah Humas ITB.

Introspeksi Diri sebagai Anak di Perantauan

Suatu ketika saya mendapatkan kabar bahwa Mama sedang sakit di Padang. Awalnya Mama bilang cuma demam. Terus akhirnya Mama menelpon kalau Mama di rumah sakit karena udah merah-merah sebagai gejala terserang DBD.

Mama cukup lama dirawat di rumah sakit, lebih kurang seminggu. Mama tidak mau makan, katanya mual. Jadinya Mama juga terserang maag. Setelah pulang, mama juga menghabiskan beberapa hari untuk istirahat di rumah, tidak bekerja.

Saat-saat itu… Saya banyak berintrospeksi sebagai anak di perantauan. Waktu saya tiba-tiba di telpon dan mendengar suara mama sangat lemah, saya langsung tidak tenang. Cemas… Bingung…

Saya tidak bisa membantu merawat mama sewaktu sakit padahal mama yang selalu saya repotkan saat sakit. Liburan semester lalu saya juga kena DBD, jadi masih jelas diingatan bagaimana mama merawat saya di rumah (saya tidak dirawat di RS) bahkan menemani saya tidur.

Saat mama sakit, saya sedang berkuliah. Jauh di rantau… tidak bisa ikut menemani mama di rumah sakit… ada perasaan bersalah.

Ya Allah… Maafkan hamba dan hanya kepadamu hampa titipkan kedua orang tua dan keluarga hamba.

Sejak saat itu saya terbiasa menelepon kedua orang tua. Sekedar menanyakan kabar mereka. Sebelumnya, saya tidak terbiasa menelepon rumah kalau memang tidak ada hal urgent untuk dibicarakan. Namun, sejak mama sakit, saya jadi rutin menanyakan kabar kedua  orang tua. Saya tidak mau jadi anak yang cuek lagi… orang tua saya makin hari makin berumur…

Begitu pula dengan keluarga saya yang lain… Mamak, etek, silih berganti masuk rumah sakit. Saya menyadari sudah masanya kami menghadapi kabar-kabar itu dikeluarga karena mereka semakin berumur. Kami anak-anaknya harus selalu siap siaga menjaga orang tua kami.

Dengan segala hal yang terjadi di kampus, saya tidak mengambil banyak waktu untuk memikirkan keluarga sebelumnya. Tapi sejak ada kabar-kabar itu, saya mulai membuka telinga dan terus mengingat untuk menitipkan mereka lewat doa-doa saya.

Saya sadar sebagai seorang anak di perantauan, saya mungkin tidak bisa selalu hadir di tengah-tengah keluarga saya. Tapi saya yakin, Allah menjaga kami semua…

Saya pun mulai takut mendengar kabar “kehilangan”. Mendapat berita duka dari kampung… Sempat suatu malam yang merenungi hal ini… Sebuah sajak pun saya tuliskan kepada malam….

Malam selalu memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan kehilangan

Terangnya hari kadang membuat saya lupa akan kelam

Kembali ditutupi oleh malam akhirnya memberikan kesempatan kepada saya ingat akan arti hidup manusia adalah kehilangan

Malam selalu mengantarkan saya pada satu titik di mana gelap adalah tempat semua kembali

Sebelum terang sejati benar-benar menjelang

Tapi tiap malam pula saya mempertanyakan,

Siapkah saya untuk sebuah kehilangan?

Saya takut jika hari-hari lalu kehilangan hanya bersembunyi dan menunjukkan wajahnya ketika saya ingin dirangkul oleh kebersamaan

Lalu ada suara yang berbisik.

“Kita tidak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Tak pernah memiliki tapi takut kehilangan

Fitrah manusia

Selamat tidur.

Sibuk Dunia, Takkan Pernah Menentramkan Jiwa

IMG_5116

Bersama para stakeholders Pemira ITB 2015

Saya tidak ingin membuat impresi bahwa saya sangat sibuk. Banyak, banyak orang yang lebih sibuk dari saya…

Saya hanya ingin bercerita bahwa semester ini, dengan segala hal yang menjadi beban pemikiran saya, ingin berbuat ini itu, ingin mengubah ini itu, ingin terlibat ini itu… Pemikiran itu memang harus saya jaga agar sense of journalist saya tetap mekar.

Tetapi… Saya pada akhirnya menemukan titik jenuh.

Tiap malam mau tidur, yang saya pikirkan adalah “what do I have to do tomorrow?”, “What did I miss today?”, “Should I meet someone tomorrow?”. To do list yang membayangi hari-hari saya…

Jiwa saya gersang. Saya sempat melalaikan suplai untuk ruh ini. Saya sempat haus dengan majelis ilmu. Bertemu dengan orang-orang shaleh yang kata-katanya menentramkan…

Alhamdulillah, ketika saya sadar, tidak sulit untuk menemukan lingkungan itu di ITB. Saya terus berdoa… Ya Allah, hadirkan orang-orang yang menjaga saya bersama mereka. Orang-orang shaleh yang mengingatkan saya ketika lalai, mengajarkan saya ketika saya tidak tahu, orang-orang yang bisa melepas dahaga ketika jiwa ini kering kerontang…

Lalu Allah hadirkan mereka di hari-hari saya. Mereka adalah hadiah dari Allah untuk saya…

Terima kasih, kawan. Mungkin kau tak berharap pujian apapun karena kau pun tidak memerlukannya. Allah-lah yang akan terus meningkatkan derajatmu, kawan, orang-orang shaleh yang selalu membuat saya iri.

Saya sadar pada satu titik bahwa saya tidak akan bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik di lingkungan, bila saya sendiri belum baik. Saya sendiri belum kuat untuk mendorong mereka berjalan kea rah yang baik ini. Saya terlebih dahulu tidak boleh lupa dengan pembinaan diri saya.

Saya takut saja… segala hal yang saya jalani ternyata tidak ada faedahnya. Saya tidak memberikan manfaat untuk orang lain, bahkan tidak ada makna apa-apa bagi saya yang menjalani tugas sebagai hamba Allah.

Di tengah kegelisahan jiwa itu, seorang kawan meminjamkan buku Fiqh Prioritas kepada saya. Dengan membaca buku itu… saya menata hati saya kembali. Saya luruskan niat dan saya ikuti petunjuk yang dituliskan penulis… Sejuk… Sangat sejuk saat membaca nasehat dari Yusuf Qardhawi itu. Itu adalah buku yang sangat saya rekomendasikan untuk kawan-kawan yang membaca. Biar kita semua mengerti bagaimana mengatur segala aktivitas di dunia sesuai dengan petunjuk dari Allah dan sunnah Rasul.

Liburan ini, saya juga direkomendasikan oleh seorang teman untuk membaca buku Tarbiyah Dzatiyah (oembinaan untuk diri sendiri). Alhamdulillah, dari buku itu saya diberikan nasehat untuk menjaga hal-hal berikut agar tetap di dalam koridor kepribadian seorang Muslim:

   1.  Muhasabah

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhtikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Q.S. Al-Hasyr:18)

  1. Taubat dari segala dosa

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar pelaku dosa di siang hari dapat bertaubat dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar pelaku dosa di malam hari dapat bertaubat, hingga matahari terbit dari sebelah barat.” (H.R. Muslim)

  1. Mencari ilmu dan memperluas wawasan
  2. Mengerjakan amalam-amalan iman
  3. Memperhatikan aspek akhlak

Saya kutip paragraph berikut dari buku tersebut:

“Ibnu Al-Qoyim RA berkata: “Agama adalah akhlak. Barangsiapa yang meningkatkan akhlak Anda, berarti ia meningkatkan agama Anda.””

  1. Terlibat dalam aktivitas dakwah

“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutinya, mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Q.S. Yusuf: 108)

  1. Muhajadah

Terima kasih untuk semua orang yang membantu saya melewati fase lelah hingga menemukan hikmah di semester empat ini.

Ramadhan sudah di depan mata… Semoga di bulan ini kita kembali merecharge iman, meningkatkan ketakwaan, dan mungkin melakukan sebuah “perubahan” (?) You decide. Semoga saat kita ketemu lagi dengan semester depan, ada kebaikan yang bertambah di diri kita masing-masing, kawan.

Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga untuk membaca cerita ini,

Mega🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s