Menatap Langit Kota Padang


Aku tak begitu takjub ketika rintik hujan jatuh setitik demi setitik saat kami melangkah ke masjid untuk mengikuti ibadah sholat tarawih.

Ndeh… hujan juo hari. Tadi urang baru sholat istisqa’ di balai kota,– Wah, akhirnya hujan. Tadi orang sholat istisqa’ di balai kota,” kata Kak Lani.

Masya Allah… ternyata rintik-rintik hujan yang jatuh ini adalah jawaban Allah segera setelah dilaksanakannya sholat istisqa’ berjamaah di balai kota Padang. Hati ini bergetar, begitu Pengasih Rabb-ku…

Sudah hampir sebulan tidak turun hujan di Padang. Sungai di dekat rumahku sudah mengering. Rumput-rumput sudah berubah kecoklatan, gersang. Suhu sehari-hari rata-rata lebih dari 30 derajat Celcius.

Alhamdulillah… Pemimpin kami orang yang sholeh. Wali kota kami tahu solusinya apa… Meminta kepada Allah Yang Maha Menguasai Langit. Ini adalah pembuktian iman kepada Allah yang dicontohkan olehnya. Bahwa memang Allah Yang Menurunkan Hujan. Allah Yang Maha Berkehendak, kita percayakah jika pinta kita akan dikabulkan?

Aku menyaksikan sekali lagi langit Kota Padang memberikan jawabannya. Allah itu Ada, Dia sedang menyaksikan tiap kita saat ini.

———-

Aku ingat langit Kota Padang di hari lain. Waktu itu aku masih duduk di bangku Kelas 1 SMP.

Pagi menjelang siang, gempa mengguncang bumi kami. Goyangannya keras menyentak, ini gempa vulkanik.

Berbondong-bondong kami menyelamatkan diri ke lapangan sekolah, di tempat biasanya kami berkumpul untuk upacara bendera dan kultum jumat pagi. Guru-guru melarang kami pulang. Gerbang ditutup, kami disuruh menunggu sampai ada keputusan anak-anak boleh dipulangkan.

Sambil menunggu, tidak ada satu pun dari kami yang tenang. Ada yang diam tapi jantung berdegup kencang. Saat itu kami sama sekali tidak mengetahui gempanya berasal dari mana (kemudian hari kami ketahui itu berasal dari Gunung Talang, Solok).

Salah seorang guru Agama Islam memimpin kami untuk berzikir. Kami duduk di bawah terik matahari menghadap ke barat, menghadap ke Bapak yang memimpin kami membaca Asmaul Husna.

Aku menengadah ke langit. Biru. Tidak berawan.

Lama, kami terus mengucapkan Asmaul Husna…

Tiba-tiba Bapak berteriak “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”. Ia lalu sujud di hadapan kami.

Ada apa? Apa yang terjadi? Kami semua keheranan.

Guru-guru yang berdiri di dekat Bapak itu kemudian menunjuk-nunjuk langit arah selatan.

Masya Allah…

Hari itu aku saksikan sebuah awan yang membentuk tulisan Bahasa Arab: Allah.

Di tengah bersihnya langit, awan itu hadir menunjukkan jelas putihnya.

Melengkung dua kali dan membentuk kepala di ujungnya.

Allah.

Degup jantung ini semakin keras. Seketika dingin walau matahari terik.

Saat itu telepon genggam kami belum begitu canggih kameranya. HP-ku sendiri Nokia 6600. Kalau saja saat itu smartphone di mana, tentu sudah heboh dunia maya karena foto itu bisa disebarkan dengan mudah.

Awan itu lama menggantung di langit. Sampai sepuluh menit kemudian, sekolah memutuskan untuk mengizinkan kami pulang.

Di perjalanan pulang, kami melihat sebuah awan tipis entah dari mana datangnya menghampiri awan Allah itu. Lama kelamaan ia membentuk sebuah tulisan yang tak kalah menggetarkan iman kami: Muhammad.

Pemandangan itu tidak akan pernah aku lupakan. Ketakjuban melihat langit Kota Padang waktu itu masih membekas di benakku.

Ke manapun aku pergi, tidak ada pemandangan seperti menatap langit Kota Padang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s