PENSIUN


Sudah lama tak kuciumi wangi rumah ini. Wangi minyak dari dapur di sore hari. Ibu memang selalu masak untuk makan malam sebelum maghrib. Hidangan khas ibu adalah lauk goreng lalu ditambahi cabe giling yang juga digoreng terlebih dahulu. Ayah selalu tidak suka dengan wangi ini karena membuat alerginya kambuh: bersin-bersin. Tapi aku suka.

Malah ini yang kurindukan. Satu tahun aku di negeri orang untuk menuntut ilmu. Walau sekedar wanginya, makanan perantauan tidaklah pernah menyerupai masakan Ibuku.

Hari ini aku kembali ke rumah. Kembali membuat keributan, mengganggu adikku, mencubiti pipi kakakku. Aku juga kembali bisa memeluk dua orang paling istimewa, Ayah dan Ibu. Selagi di rumah, tentu aku ingin selama-lamanya dan sesering-seringnya memeluk mereka.

Secara fisik, rumahku tidak banyak berubah. Penataan ruangnya pun masih seperti dulu. Begitu pula dengan kedua orang tuaku, kakak, dan adik; tidak banyak berubah kecuali berat badan masing-masing. Semuanya lebih gemuk kecuali Ayah.

“Kok Ayah kurus?” tanyaku kepadanya.

“Baguslah. Sekarang Ayah harus menjaga badan, ga baik terlalu gemuk,” katanya.

Aku baru tahu dari Ibu. Sejak Ayah pensiun belum lama ini, Ayah jadi memperhatikan pola makan dan kesehatannya secara umum. Ayah hanya makan dua kali sehari, tidak makan malam. Ayah banyak makan buah juga berhenti merokok.

Syukurlah, Ayah kurus bukan karena sakit melainkan keinginannya untuk hidup lebih sehat.

Saat malam menjelang, Ibu menghampiriku di kamar. Kami bercerita panjang lebar, saling mengabari tentang hal yang kami lewatkan dari masing-masing.

“Bu, Ayah berubah ya,” ucapku jujur.

“Berubah apanya?” Ibu malah bertanya.

Aku menggaruk kepala, “Ya, begitu. Berubah saja.”

“Semakin tua? Banyak ubannya?”

“Hahaha bukan itu, Bu,” jawabku, “Ayah jadi lebih sabar, lebih tenang.”

Sekarang Ayah sangat sering tertawa. Sering tersenyum. Garis mukanya jauh lebih menenangkan daripada dulu terakhir kali melihatnya.

“Tahu tidak kenapa?”

Ibu kembali bertanya. Si Ibu, suka sekali balik bertanya di saat aku yang butuh jawaban.

“Hmm… Karena tidak ada beban kerja lagi?” ucapku mengira-ngira. “Kalau ini jawabannya, aku tak perlu bertanya, Bu,” ucapku di dalam hati.

“Ya salah satunya.”

Ibu tersenyum.

Kemudian Ibu melanjutkan, “Sekarang Ayah shalat lima waktu ke masjid.”

Aku pun terdiam.

“Alhamdulillah kan?” Ibu menepuk bahuku.

Seketika aku ingat bagaimana Ayah dahulu. Sibuk mencari nafkah sepertiga hari, tak jarang malah setengah hari sampai akhirnya pensiun. Karena kesibukannya, Ayah tak sesering itu ke masjid. Paling hanya shalat Maghrib.

Tentu aku bersyukur kepada Allah dengan perubahan Ayah ke arah yang jauh lebih baik. Aku bahkan tiba-tiba mengagumi status pensiun. Status yang mengembalikan seseorang ke keadaan yang memiliki banyak waktu agar bisa menabung untuk akhirat. Setelah masa sempit, akhirnya pensiun mengantarkan Ayah ke waktu yang lapang untuk memperbanyak ibadah.

Selama di rumah, aku akhirnya melek bahwa Ayah dan Ibu sudah semakin tua. Ayah semakin pelupa. Ibu semakin mudah khawatir. Tapi aku senang karena mereka saling memiliki.

“Aduh, jam Ayah mana? Jam Ayah mana?”

Setiap keluar rumah, walaupun hanya ke masjid, Ayah terbiasa mengenakan jam. Tapi sekarang, jam menjadi barang yang sering Ayah lupakan di mana terakhir kali manaruhnya.

“Dekat TV tadi Ibu lihat.”

Ibu selalu punya jawabannya. Aku cekikikan melihat adegan yang terjadi hari demi hari tersebut. Seketika aku ingat gambar yang beredar di media sosial: seorang pria yang mengenakan T-Shirt bertuliskan “I don’t need Google. My wife knows everything.

Ibu belum pensiun. Ibu masih bekerja sebagai PNS. Baru sampai rumah lewat dari jam tiga sore. Setiap pukul tiga, Ayah sering duduk di ruang tamu. Aku pada suatu hari tersadar, Ayah duduk di dekat pintu itu karena menunggu Ibu pulang kerja.

Setiap terdengar motor Ibu datang, Ayah membukakan pintu dan pagar untuk Ibu.

Pemandangan itu membuatku haru. Aku ingat dulu waktu Ayah masih bekerja, Ibulah yang membukakan pintu dan pagar untuk Ayah. Kalau tiba saatnya Ayah bekerja shift siang dan baru pulang lewat dari pukul sepuluh malam, Ibu tidak akan tidur lebih dulu. Ibu kerap kali menunggu hingga Ayah pulang untuk membukakan pintu.

Aku seringkali menikmati adegan romantis di film. Kenapa baru sekarang aku sadar bahkan di rumahku sendiri sering kali adegan romantis terjadi? Tanpa skenario, hanya cinta dan waktu yang menunjukkan.

Aku mengagumi romantisme Ayah dan Ibu seketika. Apakah ini terlalu terlambat? Entahlah. Tapi setidaknya aku juga ingin seperti mereka kelak…

…Shubuh adalah waktu kencan mereka. Ayah dan Ibu keluar rumah berdua. Berjalan beriringan menuju masjid untuk menunaikan shalat Shubuh berjamaah.

Bagi mereka, sejak Ayah pensiunlah itu terjadi. Bagiku nanti, semoga tak perlu menunggu pensiun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s