Jumat Siang Bersama Pak Budiono #1


20150904_1127284 September 2015, menjelang Sholat Jumat.

Alhamdulillah Pers Mahasiswa ITB berhasil menerbitkan koran Ganeca Pos saat Open House Unit ITB Sabtu yang lewat. Saya pun berniat untuk mengabarkan ini kepada Pembina kami, Bapak Budiono Kartohadiprodjo.

Awalnya saya ingin menemui Beliau bersama Sekjen Persma, Cahya. Sayang Pak Budiono datang terlambat dari jadwal yang kami janjikan karena traffic. Cahya pun tidak bisa menunggu lama karena harus ke lab.

Alhasil, saya menemui Beliau sendirian. Saya temui Beliau di kubik kecilnya di Gedung Labtek VI lantai 2.

Basa-basi sebentar, saya kemudian menunjukkan koran Ganeca Pos edisi OHU 2015 kepada Beliau. Beliau tampak senang, Alhamdulillah. Saya ingat sebelum UAS semester lalu Beliau menanyakan, “Kapan terbit?”

Baru melihat halaman depan koran, Beliau langsung berkomentar tentang foto yang kami pasang.

“Ini caption-nya ga pas nih, ‘Salah satu rangkaian..’ Seharusnya ditulis saja ini mereka sedang ngapain.”

Kami memasang foto beberapa mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Teknik Industri yang sedang mobilisasi di acara ospek jurusan. Gambar itu mengilustrasikan headline kami, “Kebijakan Osjur 5 Hari, Himpunan Memilih Beradaptasi.”

Saya manggut-manggut. Saya catat koreksi dari Beliau.

“Sinergisasi ini apa? Judulnya malah bikin bingung nih, buat saya mikir dulu,” tutur Beliau menanggapi judul salah satu artikel.

Beliau kemudian berpesan bahwa judul itu seharusnya lugas, bikin orang penasaran bukan malah bikin orang bingung. Jadinya orang malas baca karena disuruh mikir dulu menafsirkan judulnya.

Setelah mengoreksi dan memberikan saran terkait koran Ganeca Pos, obrolan kami pun menjadi semakin hangat dan berisi.

Diawali dengan ucapan saya, “Alhamdulillah yang daftar Pers Mahasiswa ITB sekarang seratus orang, Pak.”

“Oh iya? Banyak ya? Menwa juga kemarin kalau ga salah seratusan orang,” respon Beliau.

“Bapak masih membina, Pak, di menwa?”

“Oh saya ketua Indonesia-nya.”

Saya kaget. Wah, Beliau ternyata megang banget di Resimen Mahasiswa.

“Menwa itu posisinya apa sih, Pak, di TNI gitu?” tanya saya polos – tidak punya pengetahuan tentang Menwa.

Beliau pun menjelaskan, “Bukan, Menwa itu organisasi bela negara. Jadi ya ga ada alumni-alumni menwa. Toh ga ada yang “lulus” dari menwa. Sekali masuk, selamanya mengabdi. Kalau di kampus, kita diakui sebagai unit kegiatan mahasiswa.”

—-

“Kamu tahu ga tantangan negara zaman sekarang apa?” tanya Beliau membuka perbincangan yang makin menarik.

“Ketahanan pangan, konflik sosial, ideologi,” Beliau menjawabnya sendiri.

“Berarti menwa sering kajian gitu ya Pak?”

“Iya jelas.”

Beliau kemudian bercerita tentang konflik antarnegara yang terjadi di Timur Tengah. Beliau bertanya, “Awalnya negara-negara tersebut bersatu tuh ngurus minyak di sana. Satu agama lagi. Nah, kalau ada yang mau mecah-belah mereka, kira-kira digimanain?”

Saya jawab sepengetahuan saya saja, “Dari agama. Buat mereka berselisih paham.”

“Ya, lebih tepatnya dalam hal tafsir. Dibikinlah mereka menafsirkan sesuatu berbeda-beda. Nanti masing-masing punya pengikutnya. Lalu terjadilah konflik antar kelompok,” tutur Pak Budiono.

Zaman sekarang memang tantangannya begitu, Pak Budiono melanjutkan ceritanya. Di Indonesia pun paham ideologi mulai banyak kontroversinya. Beliau sendiri bilang kalau Beliau tidak setuju dengan ideologi “demokrasi”. Itu hanya paham Barat yang ditelan mentah-mentah oleh Indonesia.

Tidak ada yang namanya Demokrasi Pancasila. Pancasila adanya.

“Demokrasi itu bilang kalau setiap manusia punya hak dan kewajiban yang sama. Nah kalau bayi gitu manusia kan? Apa si bayinya dibiarkan begitu saja karena toh dia sudah jadi manusia. Engga kan? Masih perlu ibu buat ngasuh.”

Yang benar itu ajaran Pancasila, menurut Pak Budiono. “Persatuan dalam perbedaan, perbedaan dalam persatuan.”

Beliau menjelaskan kalau Pancasila sudah sangat pas untuk jadi ideologi bangsa. “Dalam keluarga saja, kita berbeda-beda kan? Tapi karena itu kita bersatu. Coba, bapak ibumu pernah cekcok ga? Kenapa itu mereka cekcok? Adalah untuk menciptakan kerukunan. Berbeda jelas, tapi akhirnya buat bisa rukun.”

Pak Budiono juga memisalkan situasi orang tua yang memberikan nasihat kepada anaknya, “Itu bukan untuk melarang-larang atau apa-apa. Ya sesederhana pingin anaknya sukses. Bukan malah melepaskan anaknya sebebas-bebasnya.”

Saat itu saya setuju dengan Pak Budiono. Demokrasi hanya sekedar alasan bagi orang-orang untuk hidup bebas sekehendaknya. “Yang bebas siapa sih? Allah, hanya Allah. Kalau kita manusia, ya pasti berbenturan sama yang lain. Kita bebas hidup, tapi ya kalau napas butuh oksigen,” tukas Pak Budiono.

“Kamu punya pacar?”

Saya kaget ditanyai begitu. “Engga Pak,” jawab saya sambil tertawa.

“Nah, nanti kalau kamu mau nikah, rame tuh. Apalagi kalau orang tua maunya begini, kamu maunya begitu.” Pak Budiono tak lupa untuk mencairkan suasana saat itu.

Pak Budiono kemudian mengakui bahwa yang ia junjung adalah nilai musyawarah yang terkandung dalam Pancasila.

Musyawarah itu tidak terlepas dari berkorban, begitulah Beliau mengungkapkannya. “Tetapi untuk hal yang lebih besar.”

“Misal ada satu kursi kekuasaan, ya berarti harus cuma bisa satu. Jadi setelah musyawarah, ternyata kamu lebih baik dari saya, ya kamu yang duduk di sana,” Beliau menganalogikannya seperti itu.

“Seseorang itu dinilai dari seberapa banyak dia berkorban untuk hal yang lebih besar.”

Ungkapan Beliau itu langsung membuat saya tertegun. Terbayang oleh saya, hal-hal apa saja ya yang sudah saya korbankan untuk kebaikan? Apakah selama ini hanya mengikuti keinginan pribadi tanpa mengedepankan musyawarah? Na’udzubillahi mindzalik.

—-

“Tujuan kamu hidup di dunia apa?”

Topik sudah berganti. Pertanyaan kembali diajukan kepada saya.

“Mau masuk surga, Pak. Selama hidup, seperti kata Rasulullah, khairunnas anfa’uhum linnas, saya pingin menebar manfaat buat yang lain.”

“Nah, kamu pernah berdoa ga biar masuk surga?”

Saya tersenyum, “Pernah lah, Pak.”

“Masuk surga pun harus berkorban. Misal kamu sedekah, kamu rugi? Iya, uangmu jadi berkurang. Tapi rasanya bagaimana? Damaikan?”

Pak Budiono bilang, “Nah, kamu masuk surga itu sebenarnya apakah cukup dengan banyak beramal? Masuk surga itu kehendak Allah. Makanya, jangan lupa berdoa biar Allah ridho kita masuk surga. Makanya saya nanya tadi, kamu berdoa ga biar masuk surga.”

Yap benar sekali, kehendak Allah. Seringkali kita lupa tentang hal itu. Banyak berusaha tapi lupa bahwa segala hal yang terjadi di hidup adalah berdasarkan kehendak-Nya.

Beliau kemudian menasihati saya, “Kalau mau masuk surga, jangan lupa juga doakan ibu. Tanpa ibu, kamu ga bisa masuk surga. Kenapa? Kan kamu ruhnya ditiupkan dari rahim ibu. Ya kalau ga ada ibu, ga hidup kamu. Ga kenal kamu yang namanya surga.”

“Selalu doakan Ibu kan? Ga lama kok doa itu. Ga sampai semenit. Doakan, Ya Allah ampuni dosa ibu saya termasuk yang dulu-dulu.”

“Iya, Pak,” susah saya menahan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Ingat, darah yang mengalir di tubuh kamu itu darah siapa? Ibu kan? Ayah cuma ngasih sperma. Kamu harus sadar itu. Makanya Rasulullah menyebutkan Ibu tiga kali dulu, baru ayah,” tukas Pak Budiono.

—-

Obrolan kami terus mengalir. Nasihat Pak Budiono menyirami hati saya yang mungkin sedang gersang. Adem sekali rasanya disirami oleh Beliau.

Saya memang sangat senang dinasihati. Diayomi… Karena terbiasa menjadi yang “muda” di keluarga dan dinasihati oleh mamak (kakak laki-laki mama) yang belasan bahkan puluhan tahun lebih tua dari mama saya sendiri, membuat saya sangat senang bisa mendapati hal yang sama di tanah rantau ini. Saya suka mendengarkan petuah “orang tua”. Bertemu Pak Budiono melepas saya akan rindu dengan kata-kata bijak itu.

“Nanti kalau ke sini lagi, bawa pertanyaan ya. Saya senang kalau ditanyai,” pesan Beliau.

“Kalau kamu nanya, saya yang seharusnya berterima kasih. Kenapa? Karna apa yang ada di diri saya, bisa saya keluarkan. Sayang kan kalau saya ga bisa membagikan apa yang saya punya. Saya pengen semuanya keluar. Jadi nanti kalau Allah nanya, apa yang saya lakukan dengan apa yang Dia beri kepada saya, saya ada jawabannya. Nanti kalau saya kembali kepada Allah, saya kosong. Semuanya sudah saya bagikan.”

Masya Allah. Luhur sekali budi Beliau. Membuat saya mengucap syukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk dibimbing oleh orang secerdas dan searif Beliau.

Oh ya, Beliau adalah Direktur Utama Majalah GATRA. Beliau pun tak lupa menuturkan, “Apa yang paling perlu diperhatikan dalam menulis? Keakuratan. Kalau salah, bayangkan dosanya! Membohongi ribuan orang yang baca.”

Alhamdulillah. Berkah hari Jum’at. Semoga bisa berbincang hangat lagi di lain waktu. Semoga ada seri #2 dan seterusnya🙂

One thought on “Jumat Siang Bersama Pak Budiono #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s