Karena Berbeda, Kita Saling Mengenal


Peristiwa aksi terror di Paris beberapa waktu lalu seperti menjadi turning point untuk dunia yang mulai mendingin. Arab Spring mulai jinak. Kini muncullah tokoh baru yang kembali memilih latar dunia barat sebagai tempat aksinya, yaitu ISIS. Entah siapa mereka. Yang saya tahu, aksi terror tidak pernah tidak terencana. Rencananya untuk apa? Mereka yang punya jawabnya, mereka yang tak kan pernah diwawancarai, di-shoot wajahnya oleh kamera. Mereka tersembunyi tapi sedang menyetir semua.

Kembali saya teringat akan 9/11. Jujur, apalah yang saya ketahui saat saya masih berumur 6 tahun waktu itu. Seiring dengan pertumbuhan menjadi remaja, saya mengetahui tragedi tersebut dan dampaknya kepada kehidupan muslim di Amerika Serikat maupun di negara-negara lain, terutama Afganistan yang menjadi target operasi militer Amerika Serikat.

—————————————

BUILDING UNDERSTANDING

Atas kehendak Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar yang mana latar belakang program tersebut adalah “misunderstanding” antara masyarakat Amerika Serikat tentang penduduk di negara-negara mayoritas Muslim. “Building Understanding”, itulah misi program Youth Exhange and Study yang saya ikuti pada Agustus 2011 hingga Juni 2012. Kami memiliki misi untuk mengoreksi stereotype mereka tentang kami.

Apalah yang dipikirkan oleh anak yang ingin mencari pengalaman ke luar negeri? Sejujurnya saya belum begitu mengerti tentang misi “Building Understanding” setelah benar-benar menginjakkan kaki di negara adidaya tersebut.

Perbedaan begitu terasa ketika sejak detik saya mendarat di sana, saya menjadi bagian dari minoritas. Saya lahir di ranah Minangkabau di mana nilai-nilai Islam sangat kental. Tidak lagi saya temukan di sana; kecuali saat saya berkumpul dengan pelajar Muslim dari Indonesia dan dari seluruh penjuru dunia.

Saya dihost oleh keluarga yang beragama Kristen. Saya di-host bersama seorang pelajar dari Thailand yang beragama Budha. Ada tiga agama di dalam rumah yang saya tinggali hampir satu tahun. Bahasa Ingrris-lah yang mempersatukan kita. Walau terbata dan tentunya tidak selancar mereka orang Amerika, saya dan sahabat saya dari Thailand berusaha untuk beradaptasi di lingkungan yang baru tersebut. Kami saling berkenalan, kami berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan hosting.

—————————————

DARI PERTANYAAN, SAYA MENGENAL, SAYA BELAJAR

Are you Sunni or Syiah?

Itulah pertanyaan yang diberikan oleh Pastur di gereja tempat kedua orang tua angkat saya beribadah. Saya bingung. Saya merasa saya tidak pernah dilabelkan oleh kedua orang tua, “Kamu itu Sunni” atau “Kamu itu Syiah”. Saya seorang Muslim, itu saja yang saya ketahui di saat umur saya masih enam belas.

Sejak saat itu saya pun mempelajarinya. Saya tanyakan kepada orang lain. Barulah paham saya perbedaan dua kelompok tersebut. Saya bukan Syiah, saya temkan jawabannya.

Saat saya diberikan berbagai pertanyaan terkait Islam, saya pun menjadi belajar dari sana. Saya jadi tertantang untuk lebih memahami agama yang saya anut. Saya pun juga belajar untuk membahasakannya agar mereka paham Islam yang sesungguhnya.

Jihad bukan teror. Hijab bukan diskriminasi. Bahkan statement konyol seperti di dalam hijab saya ada rambut…

Begitu pula saya. Saya juga mencari tahu tentang lingkungan baru saya itu. Saya pun belajar tentang Kristen dan Budha. Saya jadi tahu kalau tidak ada ibadah dalam Budha. Yang saya tahu, sahabat saya dari Thailand tersebut mengagendakan 5 menit tiap sebelum tidur untuk bermeditasi. Saya jadi tahu tentang bahasan di Injil yang “mirip” dengan Al-Qur’an. Saya sadar bahwa ada begitu banyak kesamaan antara nilai-nilai Islam dan Kristen. Tapi tetap, inti dari keimanan dari dua penganut agama tersebut berbeda.

—————————————

KETIKA SEMUA JELAS BILA DIUTARAKAN

Suatu malam, setelah saya mempresentasikan tentang Indonesia dan Islam di hadapan kumpulan remaja di gereja, Dad (ayah angkat) mengajak saya berdiskusi empat mata.

Saya tahu sudah lama ada yang mengganjal dari tatapannya kepada saya. Saya sadar ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada saya.

Akhirnya di suatu hari Musim Semi (menjelang akhir program YES), kami duduk berdua sambil berdiskusi.

Kami mendiskusikan beberapa poin dari presentasi saya. Di suatu titik, Dad akhirnya memunculkan pertanyaan:

“Kenapa kamu mau dihost oleh kami? Bukankah Muslim tidak boleh berlindung kepada nonmuslim?”

Ini ternyata yang selama ini menjanggal baginya. Yang ingin meng-host pelajar asing memang Mom pada awalnya. Dad hanya mendukung saja, ia yang menyarankan agar dua orang pelajar yang tinggal di rumah mereka karena akan terlalu sepi bila sendiri. Itu saja. Dan menerima seorang Muslim dan Budha, sepertinya menarik, menurutnya.

Saya pun menjelaskannya kepada Dad. Saya ditempatkan di sana atas kepercayaan AFS (organisasi internasional yang mengurus hosting atau penempatan pertukaran pelajar) kepada mereka. Saya juga tidak sepenuhnya di bawah kendali orang tua angkat. Saya di sana sebagai seorang tamu sekaligus dengan niat menuntut ilmu. Saya jelaskan bahwa yang dilarang adalah ketika saya mengikuti aturan dari non-muslim yang jelas salah menurut Islam dan tunduk terhadap kehendak di luar kebijaksanaan yang berlandaskan syariat Islam.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS al-Mumtahanah:8).

Dad pun tersenyum. Wajahnya berubah, seketika kerut di keningnya menghilang, kerut yang biasa muncul setiap berdialog dengan saya.

—————————————

PENGASINGAN (?)

Situasi dunia yang kembali menegang dengan intrik “Teroris dilakukan oleh Muslim” kembali menguak. Sedih… Sedih rasanya ketika saya membaca berita tentang serangan yang dilancarkan Perancis ke Suriah… Sedih ketika muncul tulisan-tulisan tentang “pengasingan” dunia terhadap muslim, terutama imigran Muslim yang masuk ke Eropa.

Saya membaca cerita tentang warga Amerika yang simpatik dengan cerita supir taksi Muslim yang susah mendapatkan penumpang sejak terjadinya Teror Paris. Si penumpang mengunggah cerita supir tersebut ke dunia maya… Berderai air mata ini ketika mengetahui ada saudara Muslim di belahan dunia sana yang kehidupannya terancam akibat aksi teror yang entah siapa penanggung jawabnya.

Seketika pula saya mengingat tagline #IllRideWithYou di Australia. Kampanye media sosial itu muncul setelah cerita seorang Muslimah yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di transportasi umum karena menggunakan hijab. Situasi tersebut terjadi setelah ada aksi teror di sebuah cafe di Sydney.

Rasa simpati orang-orang pun muncul. #IllRideWithYou pun menjadi viral.

Saat mengetahui berita itu, bergetar hati ini. Alhamdulillah… ketika semua orang saling memahami karena mengenal satu sama lain, dunia menjadi begitu indah. Damai menjadi pilihan di setiap konflik yang dipercikkan oleh orang yang sembunyi tangan.

—————————————

BERBEDA UNTUK MENGENAL

Karena berbedalah kita saling mengenal. Karena berbedalah, saya bisa mengetahui itu Ibu saya, itu bukan Ibu saya. Karena berbedalah, saya bisa mengenal itu kamu, yang lain bukanlah kamu. Bayangkan jika kita semua sama…

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13)

Jika tampak yang berbeda, tidakkah kau ingin tahu siapa dia? Sungguh tidak adil jika mengenal kita artikan dengan sekedar melihat atau mendengar dari orang lain.

Itu hanyalah pengamatan, bukan perkenalan.

Kau tidak mengenal sampai kau benar-benar berinteraksi. Mengenal sejatinya adalah kata aktif yang terjadi timbal-balik antar dua pelaku. Maka adalah kata berkenalan, seperti bersalaman, atau berpelukan. Kedua pelaku sama-sama bisa jadikan subjek, bisa pula menjadi objek.

—————————————

DALAM BHINNEKA TUNGGAL IKA

Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Bersatu dalam perbedaan. Maka, jika kita masih menjunjung semboyan tersebut, janganlah anti dengan sebuah perkenalan.

Janganlah anti dengan saling berdiskusi agar saling paham dengan identitas masing-masing.

Bertemulah. Saling berkenalanlah. Saling bercerita. Manfaat ruang di yang kita tempati, jangan hanya menari-cari ruang maya yang terkoneksi oleh jaringan tak terlihat.

Maknai sebuah perkenalan.

Tidak hanya soal agama. Ideologi, budaya, bahkan sesimpel hobi. Sesimpel bacaan masing-masing. Sesimpel tontonan di YouTube yang berbeda-beda.

Satu sama lain bisa saling mengenal lalu bertukar cerita. Dengan begitu kita pun bisa saling memahami dan belajar.

Bersatu bukan berarti menjadi sama.

Karena berbedalah kita perlu bersatu.

Karena bersatulah kita damai walau dalam perbedaan.

—————————————

 

Untuk semua orang yang pernah saya kenali,

untuk semua orang yang pernah saya tanyai,

untuk semua orang yang pernah saya ajak berdiskusi,

terima kasih.

Dari pertemuan-pertemuan itulah, saya tumbuh mendewasa.

—————————————

 

Kutuliskan untuk blog yang sudah menemani saya dalam proses belajar.

6 tahun sudah blog ini. masih banyak cerita yang belum tersampaikan.

Semoga masih ada waktu untuk bercerita.

Salamku, semoga sampai kepada dunia,

Mega.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s