Mati


Pertama kali aku benar-benar paham arti kata mati adalah saat kakek (aku panggil dia Inyiak) meninggal dunia saat aku masih di bangku SMP. Cepat. Walau sempat dirawat di rumah sakit, aku yang masih lugu masih berpikir bahwa kakek akan sembuh seiring waktu.

Tapi tidak. Ia pergi untuk selamanya.

Aku pun merasa menyesal karena tidak menganggap semuanya serius. Tanda-tanda bahwa kakek sedang sakratul maut tidak aku mengerti. Barulah saat kakek sudah pergi, aku mengerti setelah mendengar cerita-cerita dari keluarga yang menjaga kakek di rumah sakit.

Di saat itu aku sadar bahwa malaikat Israil bisa datang begitu cepatnya.

Sejak kakek meninggal, nenek pun melemah. Nenek bertahun-tahun berbaring di tempat tidur saja. Mereka adalah orang tua dari Mamaku.

Sedangkan ayah dari Papa sudah meninggal saat aku berusia 40 hari katanya. Ibu dari Papa meninggal saat aku kelas 1 SMA. Nenek meninggal dalam damai dalam tidurnya di pagi hari.

Tidak ada satu pun yang menyaksikan helaan nafas terakhirnya. Nenek pergi dalam damai…

—–

Kehilangan nenek, ibu dari Mama, mungkin yang paling membekas di memoriku. Maklum, nenek adalah sosok yang sangat dekat denganku. Aku tumbuh di dekat nenek. Nenek yang mengajarkanku banyak hal. Nenek yang mengajarkan aku mengaji, mengajarkan aku sholat berjamaah di masjid.

Nenek yang menemaniku tidur. Nenek yang suka mengusap-usap kepalaku hingga kuterlelap.

Saking aku takutnya kehilangan nenek dalam kejapan mata, selagi nenek tidur aku memperhatikan perutnya. Aku merasa tenang bila masih melihat perutnya naik turun, artinya ia masih bernapas.

Setahun pula aku sempat jauh dari nenek, tidak bertemu. Aku menjaganya dalam doa dan pasrah bila saat aku jauh itu nenek dipanggil oleh Allah.

Ternyata Allah memberikan banyak waktu untukku untuk tetap dekat dengan nenek. Saat aku kembali, nenek masih segar tetapi sudah tidak bisa bercerita banyak. Tapi aku tetap bersyukur, nenek tetap masih bisa mendengarku dengan baik dan tersenyum sebagai responnya kepadaku.

Lebih kurang enam bulan berselang, nenek akhirnya dipanggil oleh Allah swt. Aku tak disampingnya saat itu. Tapi Allah memberikan aku kesempatan bertemu lima hari sebelumnya. Aku bahkan sempat bercerita banyak dan bernostalgia dengan nenek.

Kehilangan nenek adalah momen bagiku untuk semakin mengerti kata mati.

—–

Aku merenungi kembali kata mati setelah kepergian salah seorang tetua di keluarga Papa dua hari yang lalu. Almarhumah adalah sepupu nenek.

Ia pergi dalam damai saat sedang berbaring mendengarkan pengajian di pagi hari. Saat dibangunkan oleh anaknya, napasnya telah terhenti.

Allah Maha Kuasa. Indahnya cara Allah memanggil nenek itu. Dalam kebaikan, dalam ketenangan. Walau memang meninggalkan keluarga dalam ketidaksiapan untuk melepasnya.

Kembali aku teringat bahwa mati bisa datang kapan saja. Bukan masalah umur, tua atau muda. Bukan masalah harus sakit terlebih dahulu.

Mati bisa menjemput hari ini.

Sejujurnya…

Karena terngiang kata mati pula aku memilih pulang. Karena kata mati aku sekarang berada di rumah.

Aku takut aku menyia-nyiakan waktu untuk masih menikmati hidup, baik itu hidupku maupun hidup orang-orang yang selalu aku rindukan di rumah ini.

Selagi rinduku masih ada obat berupa wujud mereka, aku bertekad untuk menginderanya.

Sebelum mati meniadakan mereka untukku sayang.

Atau sebelum mati meniadakanku untuk menyayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s