Semester 5 – When You Decided to Not Do It


Capek na rasonyo kuliah ko – Kuliah rasanya cepet banget ya…” ucap saya di mobil saat perjalanan ke Bukittinggi bersama kedua orang tua dan adik.

Eh, capek baa ko? Ka lamo-lamo kuliah tu? – Eh, cepet maksudnya? Emang mau kuliah lama-lama?” respon Papa spontan.

Hahaha saya pun tertawa. Bukan maksud ingin kuliah lama-lama, tapi rasanya waktu berputar begitu cepat selama saya berkuliah. Tak terasa, sewaktu berbicara itu, saya sedang menikmati libur semester 5 di kampung halaman.

Ya, manis perjuangan memang baru terasa setelah kita sampai ke tujuan. Mengingat semua aral yang melintang membuat kita tersenyum bahagia dan mengimani semua bisa kita lewati karena kuasa Allah, Tuhan Yang Maha Penolong.

 

20 SKS, TL semua

Ada 16 sks yang wajib saya ambil semester 5 lalu, yaitu Pengolahan Fisik dan Kimia (3), Rekayasa Proses Biologi (2), Laboratorium Lingkungan (3), Teknik Penyediaan Air Minum (3), Pengelolaan Persampahan (3), Pencemaran Tanah (2). Selain itu, saya mengambil mata kuliah semester 7, yaitu Kesehatan Lingkungan Kerja (2) dan satu mata kuliah pilihan dalam program studi, yaitu Teknologi Konservasi Lingkungan (2).

Semua mata kuliah di atas adalah mata kuliah Teknik Lingkungan. Awalnya saya pikir akan membosankan, ternyata tidak juga. Yang menjenuhkan adalah……. jurnal dan laporan praktikum yang harus ditulis tangan dan dikerjakan tiap minggunya. Yap, Laboratorium Lingkungan. Mata kuliah ini yang membuat saya begitu lekat dengan pulpen dan kertas bekas (laporan praktikum harus ditulis di kertas yang sisi lainnya telah digunakan).

Tapi, saya sadar bahwa Laboratorium Lingkungan adalah kemampuan yang harus saya kuasai bila memang ingin berkecimpung di dunia evaluasi kualitas lingkungan.

Semester ini saya baru merasakan ke-TL-an di tiap mata kuliahnya hahaha Maklum, tahun dua saya dan kawan-kawan masih belajar kemampuan dan ilmu dasar seperti Mekanika Fluida, Matematika Rekayasa, Hidrologi, dll. Baru di tahun ketiga inilah kita belajar proses pengolahan limbah dan berbagai proses rekayasa lainnya di bidang teknik lingkungan.

Mata kuliah Pengolahan Fisik dan Kimia dan Rekayasa Proses Biologi lebih fokus kepada proses yang berlangsung di tiap unit pengolahan limbah cair, padat, maupun gas. Proses tersebut bisa berlangsung menggunakan alat atau desain tertentu (fisika), melakukan perubahan wujud/struktur zat (kimia), maupun menggunakan mikroorganisme (biologi).

Untuk limbah padat, yaitu sampah, ada mata kuliah khusus yang tidak hanya belajar tentang pengolahan tetapi pengelolaan secara umum. Pengelolaan Sampah adalah mata kuliah yang membuka mata saya tentang pengelolaan sampah di Indonesia yang sangat butuh perbaikan di sana-sini. Tidak hanya pemerintah atau swasta yang bergerak di bidang pengelolaan sampah, tapi kita masyarakat wajib berpartisipasi karena kitalah para penimbun atau penghasil sampah.

Di mata kuliah tersebut, kami mendapatkan kesempatan untuk kuliah lapangan ke TPA Bantar Gebang dan TPA Sumur Batu yang sama-sama berlokasi di Bekasi. Gunungan sampah membentang di area yang begitu luas.

Yang membuat saya mirih adalah gubuk-gubuk para pemulung yang dibandung di hadapan gunung sampah tersebut. Anak-anak bermain sepeda di area TPA. Bayi tumbuh di area yang begitu kotor tersebut.

Astaghfirullah… Aniayakah kita selama ini membiarkan saudara kita hidup seperti itu di sana?

IMG_7842Mata kuliah yang mempelajari proses rekayasa di bidang lain adalah Teknik Penyediaan Air Minum. Di sini kami belajar merancang sistem penyediaan air minum, mulai dari reservoir, transmisi (pengaliran air dari reservoir ke unit pengolahan air minum), hingga distribusi (pengaliran air ke konsumen). Hmm.. Belajar mengolah limbah masih lebih menarik bagi saya daripada merancang sistem air minum hehe.

Sedangkan mata kuliah lainnya bisa dimengeti dengan nama mata kuliahnya sendiri hehe

 

Sunken Court E-02

Ruang petak itulah yang menjadi tempat pulang saya di kampus hampir tiap hari. Ketika saya ingin fokus mengerjakan tugas, seperti laporan praktikum, saat itulah headphone bisa membuat saya bisa merasa begitu damai di antara keributan Sunken Court. Yang saya syukuri, sekre Pers Mahasiswa ITB di Sunken Court sana (dan wifi unit sebelah).

Tak jarang saya ke sana hanya untuk sekedar melepas penat, atau berharap menemui kerabat di sekre untuk sekedar bercerita, atau untuk menonton Daehan Minguk Manse hehehe

Di sana juga saya bisa tidur. Ucapan terima kasih untuk kerabat-kerabat yang pernah “mengalah” dan akhirnya membiarkan saya tidur dengan damai di sana hehe

Memori satu semester kemarin begitu banyak di sana. Diskusi maupun obrolan ringan. Tertawa maupun menangis. Ucapan semangat maupun kekecewaan.

Malam-malam hectic demi naik cetak keesokan harinya! Bersama kerabat lainnya malam menjadi tak sedingin dan semengantuk itu :” Dan… pizza yang menemani. Hahaha kapan Pers Mahasiswa menjadi yang terakhir menutup pintu di Sunken Court? Adalah saat akan naik cetak hahaha

20150827_205527.jpgAlhamdulillah, kami berhasil menerbitkan koran Ganeca Pos dua kali semster ini, Agustus dan November. Lagi, orang-orang yang berkumpul di Sunken Court E-02 yang membuatnya nyata.

Kerabat, mari selalu kembali ke sana setiap kita ingin bersama, baik mengulang cerita lama maupun untuk membuat sebuah c(/b)erita baru🙂

HMTL, yang Memberi Saya Kesempatan untuk Tumbuh

Tentunya himpunan adalah tempat bernaung yang juga membuat saya bisa tumbuh di kampus ini. Banyak sekali toleransi yang diberikan karena amanah saya di luar himpunan.

Tapi kakak-kakak dan teman-teman di sini terus mengingatkan, mengajak saya untuk turut serta dalam kegiatan yang membuat saya banyak belajar.

Bersama kawan-kawan Diskusi Kreatif, kami membangun suasana baru di himpunan sehingga tidak awam lagi dengan budaya kajian. Sejujurnya banyak sekali diskusi yang saya lewatkan tetapi tetap saya sangat mensyukuri kesempatan yang diberikan untuk bergabung bersama mereka.

Kesempatan juga diberikan kepada saya pada akhir semester lalu untuk mengikuti Kongres Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia di Samarinda. Keinginan saya sudah lama untuk bisa aktif di organisasi skala nasional. Alhamdulillah HMTL memberikan kesempatan itu.

Sayang, saya tidak lebih awal terjun di IMTLI. Saya masih awam padahal saya sudah menginjak tahun tiga dan seharusnya bisa mengisi kepengurusan. Tapi saya sadar, banyak yang lebih pantas karena mereka lebih paham dan berpengalaman di IMTLI.

Bertemu dengan delegasi dari berbagai universitas memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar memahami pola pikir pelajar dari perguruan tinggi lain. Hasil dari pendidikan ada pola pikir dan itu tercermin dari bagaimana seseorang menyampaikan argumentasinya. Tentu berbeda-beda, tidak mungkin sama. Kesempatan untuk berada dalam keberagaman itu memberikan insight baru kepad saya dan pengalaman untuk bagaimana berkomunikasi efektif dengan mereka.

Kongres memiliki potensi besar sebagai wadah untuk menggabungkan ide besar untuk dilakukan bersama sebagai IMTLI. Kongres tahun ini sudah mulai berubah dari “perangkap” masih membahas AD/ART seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya berharap, kontribusi HMTL ITB bisa lebih besar dalam kongres, bukan dalam hal kuantitas delegasi tetapi kualitas pembaharuan yang ingin dibawa demi Indonesia.

“Remember not only to say the right thing in the right place, but far more still, to leave unsaid the wrong thing at the tempting moment”

Menulis kritik untuk KM ITB menjadi tanggung jawab kami sebagai pers di kampus. Tidak hanya sekedar meliput atau mengabarkan, ada fungsi yang juga tidak kalah penting, yaitu mengawali keberjalanan kemahasiswaan di KM ITB.

Takut. Menciut.

Tentu pernah saya diselimuti rasa “tak perlu menulis”. Tapi, ide itu seperti bom. Kau ledakkan maka kau baru tahu seberapa dahsyat ia.

Well, tidak hanya itu yang saya usahakan, tidak hanya mengumpulkan keberanian untuk berbicara… Saya pun sempat struggle to not do it.

Saya beberapa kali hadir di forum massa, forum di mana berbagai macam individu datang untuk membahas atau mendengarkan penjelasan tentang suatu isu kampus. Fiuh… Di saat semua berpendapat, di saat semua bertanya, jantung ini pun berdegup kencang untuk turut serta mengemukakan pendapat. Ingin rasanya membantah segera apa yang saya tidak setujui.

Di suatu forum… Saya sadar akan satu hal… Ada ego yang tampak jelas dalam kata dituturkan. Ada keangkuhan yang entah tersembunyi atau semakin dinampakkan. Hanya kepuasan untuk berbicara dan mematahkan argumen yang dicari. Saya menyaksikannya. Di saat banyak orang berbicara bukan untuk sebuah “manfaat”, hanya untuk mencari “kesenangan pribadi”.

Seketika saya berusaha menarik diri. Tidak. Saya tidak mau seperti itu. Saya menarik diri dari forum-forum yang berubah menjadi sekedar ajang adu bakat.

And when I decided to not do it, I am relieved. It’s better to stay silent, or walk away, rather than stay and talk in a forum which is not going to make any conclusion or solution.

Di saat itu, saya sadar bahwa tak bisa saya menipu diri untuk bisa menjadi seorang yang memiliki dialektika yang bagus dan berbicara di depan umum begitu. Saya tetaplah lebih akrab dengan pena, atau ya keyboard hahaha

Tapi untuk forum yang memang untuk menarik aspirasi, saya sukai kesempatan itu untuk mengemukakan ide dan saling berdiskusi dengan orang lain yang pemikirannya keren-keren.

Dan.. ada hal lain yang saya pelajari… Pandai-pandailah memilih forum yang memang ada manfaatnya. Hadirilah forum yang memang dihadiri oleh orang-orang bijak, bukan orang-orang yang sekedar haus lampu sorotan. Kau akan bisa membedakan mereka, percayalah.

——

You got to know where you stand. Orang-orang di sekitarmu yang membentukmu. Lingkunganlah yang mendewasakanmu.

You got to experience it. Baik buruk itu baru kau mengerti setelah kau berkenalan dengannya. Allah Maha Petunjuk, maka selalu dengan kerendahan hati memohon kepada Allah untuk menunjukkan jalan kepada kebaikan di mana pun dan dengan siapa pun kita menjalani hari.

None doesn’t mean anything. Including you who reads my story.

Thank you,

Mega.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s