Untuk Daehan Minguk Manse… dan Ap(p)a


Daehan Minguk Manse,

tiga nama yang sudah saya sayup-sayup dengar dari percakapan orang-orang di kampus saat masih semester 3 (2014). Saya melihat wajah-wajah mereka di laptop orang-orang yang sedang membuka YouTube di berbagai sudut kampus. Beberapa kali saya lihat juga muncul di timeline media sosial.

Wajah bocah itu tidak menarik bagi saya.

Sampai akhirnya libur semester tiga, ternyata Kakak dan Adik saya juga terjangkit wabah “Daehan Minguk Manse”. Saya biasanya memang tahu tayangan hiburan dari Kakak, biasanya drama korea. Waktu libur itu, Kakak malah menyodorkan saya video-video yang isinya tiga bocah kembar yang sedang bermain-main dengan Bapaknya.

Saya pun tidak mau menontonnya. Saat saya tahu itu reality show, saya makin tidak mau karena takut ketagihan. Bayangan “Running Man” pun menutup pikiran saya sehingga tidak mau menerima tayangan “The Return of Superman” tersebut.

“Ayo lah Ga, nonton duluuuuu,” Kak lani dan Dinda tak henti membujuk saya.

Semakin mereka gigih, semakin saya menolak. “Ngapain sih nonton anak-anak kecil begitu!”

Hahaha belagu…

Tapi ya… orang yang awalnya benar-benar tidak suka, pada akhirnya bisa menjadi sangat menyukainya…

Allah Maha Membolak-balikkan hati hahaha

Dan jadilah… Saya menonton episode pertama Daehan Minguk Manse bersama Appa Song Il Kook dan episode-episode selanjutnya… Awalnya sulit bagi saya membedakan Daehan Minguk. Tapi akhirnya saya sadar mereka sangat berbeda…

Semakin rutin menonton, makin jatuh cintalah saya dengan tingkah laku mereka yang menggemaskan. Mereka juga terhitung pintar untuk anak seusia mereka.

Sampai akhirnya saya kembali ke Bandung untuk semester 4. Kakak saya bahkan tiap minggu mengupdate saya dengan video-video terbaru mereka. Maklum, saya anaknya gaptek. Situs nonton online saja saya tidak tahu waktu itu hahaha. Kak Lani rutin mengirimkan videonya via Google Drive.

Di pertengahan semester, saya pun tahu caranya menemukan video terbaru di YouTube atau di berbagai situs lainnya.

Kak Lani tidak perlu menyuapi saya lagi. Saya sudah bisa mandiri mencintai mereka #eaaaa

Bahkan saya sudah sampai di level Kak Lani dan Dinda, saya menyebarkan virus-vurs Daehan Minguk Manse di kampus. memotivasi teman laki-laki terutama, agar bisa terinspirasi dengan cara mendidik anak ala Song Il Kook.

Sampai di semester 5, saya sudah di level mendengarkan Daehan Minguk Manse sebagai teman mengerjakan laporan dan tugas lainnya. Mendengarkan gelak tawa dan percakapan mereka yang sudah saya hafal itu di episode yang mana, sudah cukup membuat saya terhibur.

Suatu ketika saya mengeluh ke seorang teman di Persma, “Ah, listening ega kayaknya berkurang deh sekarang,” waktu itu kami sedang menonton film barat. “Kamu sih kebanyakan nonton Daehan Minguk Manse!” ucap teman saya.

Benar sih.. Bisa jadi hehehe…

Dari mereka saya belajar….

awysfv

Hal pertama yang diperlukan oleh seorang anak adalah kehadiran orang tua… Di situasi apapun, orang pertama yang mereka panggil adalah orang yang biasanya berada di dekat mereka. Jadi, jika memang anak-anak itu memanggil orang tuanya di situasi-situasi seperti saat bangun tidur atau saat mereka menangis, maka itu adalah tanda bahwa orang tua mereka memang senantiasa berada di dekat mereka.

Kehadiran orang tua diperlukan untuk mengayomi mereka. Memberitahu apa yang tidak mereka ketahui. Menjawab pertanyaan mereka, walau seringkali para orang tua tidak pernah memikirkan hal tersebut sebelumnya. Tapi dengan begitulah, keduanya sama-sama belajar.

Dua hal yang diperlukan saat mendidik anak adalah kasih sayang dan disiplin. Saya sangat suka ketika setelah menghukum Daehan Minguk Manse karena kenakalan mereka, Song Il Kook pada akhirnya akan memeluk dan mencium mereka :” Dan menghukum mereka pun bukan karena kenakalan-kenakalan konyol, tetapi ketika mereka tidak lagi mendengarkan Song Il Kook atau saat masih saja melakukannya walau sudah beberapa kali ditegur Song Il Kook.

Hal ini juga diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Berkata Mu’ammal ibn Hisyam Ya’ni al Asykuri, berkata Ismail dari Abi Hamzah, berkata Abu Dawud dan dia adalah sawwaru ibn Dawud Abu Hamzah Al Muzanni Al Shoirofi dari Amru ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, berkata Rasulullah SAW: Suruhlah anakmu melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena mereka meninggalkan sholat ketika berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah mereka (anak laki-laki dan perempuan) dari tempat tidur.” (H.R. Abu Dawud)

 

Kalau shalat belum diwajibkan atas anak-anak yang masih kecil mengingat mereka belum berstatus mukallaf. Islam mewajibkan kepada orang tua atau walinya untuk melatih mereka dan memerintahkannya kepada mereka. Islam menekankan kepada kaum muslimin, untuk memerintahkan anak-anak mereka menjalankan shalat kepada mereka telah berusia tujuh tahun. Hal ini dimaksudkan agar mereka senang melakukannya dan sudah terbiasa semenjak kecil. Sehingga apabila semangat beribadah sudah bercokol pada jiwa mereka, niscaya akan muncul kepribadian mereka atas hal tersebut. (http://kalidanastiti-space.blogspot.co.id/2013/11/hadits-tentang-pendidikan-keluarga.html)

Dan… Saya sadar bahwa anak-anak bersikap mengikuti orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya. Saya melihat Daehan Minguk Manse sangat sopan dan ramah, tentunya itu karena kedua orang tua mereka pun begitu. Benar saja, di episode terakhir saya melihat bagaimana Song Il Kook dan istrinya berkomunikasi antar mereka maupun berbincang dengan Daehan Minguk Manse. Di sepanjang episode juga saya melihat bagaiman Song Il Kook bersikap ramah dan sopan kepada setiap orang yang mereka temui di berbagai tempat.

So, act like how you want your kids to be. Kita harus membuat lingkungan pendidikan pertama bagi anak-anak, yaitu keluarga, menjadi tempat mereka membangun akhlak luhur, aqidah kuat, dan disiplin dalam beribadah.

Dan saya pun ingat Ap(p)a saya sendiri…

IMG_5925

Menonton mereka tentunya membuat saya ingat Papa atau biasa saya panggil Apa (orang Minang sering gitu, ngilangin huruf vokal di awal, kayak Mega jadi Ega (?) hahaha ga semuanya juga sih)

Semakin saya dewasa, saya sadar banyak hal di dalam diri saya yang merupakan buah yang jatuh dari Papa. Bahkan alerginya saja juga berada di dalam diri ini. Sesederhana kami sama-sama bersin di pagi hari.

Papa sering marah ketika saya tidak mau mengikuti apa yang dia minta agar fisik saya lebih kuat. Papa sering suruh saya minum teh telur atau kopi buatannya. Tapi saya tidak mau karena tidak suka. Papa juga sering marahin saya karena tidak pakai memakai kaos kaki di kampung (Bukittinggi suhunya dingin seperti di Bandung). “Darah ega tu dingin,” ujar Papa berkali-kali. Tapi saya sering nakal, tidak mengikutinya karena saya pikir ini alergi yang tidak bisa diobati dengan sekedar pakai kaos kaki.

Setelah dewasa ini saya sadar bahwa Papa cerewet tentang hal-hal sepele tersebut karena memang Papa mengerti apa yang saya rasakan ketika alergi itu kambuh. Karena Papa juga mengalaminya. Pengalaman Papa-lah yang membuat dia menyuruh saya minum minuman yang dia buatkan karena biasanya dia sembuh karena itu. Begitu pula dengan kaos kaki.

Sederhananya, begitulah cara Papa melindungi saya walau tak terwujud dalam kata-kata.

Untuk semua hal yang Papa lakukan, yang saya paling syukuri adalah memberikan kepercayaan kepada saya untuk merantau. Papa yang paling cerewet tentang tabungan di bank.

Masih ado pitih di bank? – Masih ada uang di bank?” biasanya itulah pertanyaan Papa di setiap perbincangan kami via telpon.

Apa pernah marasoan baa hiduik di rantau ndak bapitih. Jan lah sampai Ega marasoannyo. – Papa pernah merasakan hidup ga beruang di rantau. Ega jangan sampai ngerasainnya,” ucap Papa suatu hari.

Ada hal yang membuat saya terharu sekaligus lucu… Di Ramadhan pertama saya di Bandung, saya diceritakan oleh Mama, “Apa takana jo ega sampai manangih tu ndak habih makannyo – Papa inget ega sampai nangis terus ga habis makanannya,” kata Mama via telpon di malam berbuka pertama kali.

Tu iyo, takanan dek Den jo a anak Den makan dikosnyo du – Iya lah, Papa inget Ega, ama apa Ega makan di kosan,” tutur Papa.

That’s how my father makes sure that what I am safe in the path that I’ve chosen. First, by letting me go. Second, by making sure that I have food to eat. And third, remind me to stay healthy. 

…and do I have to say Goodbye to Daehan Minguk Manse and Appa Song Il Kook?

Nope, kita bahkan belum pernah ketemu hehe. Dan mereka akan tetap ada di YouTube dan berbagai channel lainnya untuk saya selalu putar ulang demi mendengar gelak tawa mereka.

Semoga mereka selalu sehat, Daehan Minguk Manse tumbuh menjadi anak-anak yang berprestasi, dan semoga bisa mendapatkan cahaya Islam suatu hari nanti hehehe😀

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s