1 Musuh Terlalu Banyak


Seharusnya tidak ada hendak untuk memiliki musuh. Musuh 1 orang saja sudah terlalu banyak.
 
Tapi kalau pun ada, Buya Hamka menjadi suri tauladan.
 
Kisah yang terkenal mungkin adalah Buya Hamka menjadi imam sholat jenazah Bung Karno.
 
Tapi, ada kisah lain yang lebih menarik menurut saya, yaitu hubungan Buya dengan Pramoedya Ananta Toer. Walau karya Buya seringkali dijelek-jelekkan oleh Lentera (sebuah kolom yang dipimpin oleh Pram di harian Bintang Timur ), pada akhirnya Pram melakukan hal yang tak disangka-sangka…
 
Saat Pram dikenalkan dengan calon menantu yang seorang non-muslim. Pram pun ingin anak gadisnya menikah dengan seseorang yang seiman. Kepada siapakah Pram meminta tolong?
 
Pram menyuruh calon menantu dan anaknya menemui Buya. Alasannya?
 
“Pertama-tama karena saya tidak mendidik anak saya. Justru ibunya yang mendidik dia menjadi seorang muslimah yang baik. Justru ibunya yang mendidik dia menjadi seorang muslimah yang baik. Kedua, karena saya harus menghormati ibunya dan keluarga ibunya, keluarga besar Muhammad Husni Thamrin. Masalah perbedaan pandangan politik dengan Hamka tetap. Tapi dalam hal ceramah agama di TVRI, Buya Hamka lah di Indonesia yang paling mantap membahas tauhid. Belajar Islam ya belajar tauhid.” – Pramoedya Ananta Toer.
 
Kutipan itulah yang menjadi bagian favorit saya dari Kata Pengantar Taufiq Ismail di buku Ayah… oleh Irfan Hamka.
 
Menjadi orang yang amanah (dapat dipercaya), baik oleh kawan maupun lawan. Siapa kini yang bisa? Semoga kami bisa meneladanimu, Buya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s