Memoar Hari Ini


Ini ceritaku di hari yang seharusnya aku bisa turut bahagia, bukan pusing memikirkannya.

Hari ini Sabtu. Ada kawan yang mengajakku jalan pagi. Aku lupa apakah kita sudah mengatur pukul berapa harus bertemu. Yang ada di kepalaku kita berkumpul pukul 6 pagi.

Maka aku siap pukul 6 pagi. Di grup Line, belum ada satupun yang menyahutku. Masih tidur? 

Aku tunggu kabar sampai setengah jam berlalu. Mata ini tak hendak terpejam lagi. Pagi ini mau jalan pagi, kan? Begitu sudah ter-set diotakku.

Akhirnya aku memutuskan jalan sendiri.

Ini hal pertama yang memang menjadi obat di hari yang memusingkan: jalan sendiri.

Aku berjalan menuju tempat sarapan yang agak jauh dari kosan biar bisa berjalan lebih lama. Aku putuskan untuk makan bubur ayam di daerah Balubur. Kususuri jalan Cisitu-Tamansari untuk sampai ke sana.

Perjalanan itu ditemani Radio 98.4 FM. Satu hal yang aku sukai dari mendengarkan radio adalah kau tak bisa menebak dan mengatur lagu apa yang akan mereka sajikan untuk menjadi soundtrack perjalananmu. Kau tinggal menikmati saja dengan sedikit kejutan.

Ada yang memanggilku dari sepeda motor di jalan Tamansari. Awalnya aku takut menoleh. Tahulah, berita kriminal membuat kita was-was berinteraksi dengan orang asing. Setiap ada orang asing yang menyapa, aku segera berdzikir di dalam hati.

Ya?

“Gedung kuliah umum di mana ya Mbak?” tanya Mas yang matanya saja yang bisa kukenali.

Masuk dari gerbang depan aja Mas, ntar tanya sama yang di dalam aja.

Waktu itu kami sedang berada di utara kampus, padahal gerbang depan di bagian selatan.

Setelah itu aku menemui umbul-umbul yang mengganggu jalanku di sekitar gerbang Sabuga. Konser, seperti biasa. Di Indonesia, pejalan kaki harus banyak berkorban untuk yang sedang mencari perhatian: pedagang bergerobak ataupun pedagang berwajah umbul-umbul.

Buat apa aku komentari itu? Ya setidaknya aku punya hal yang dipikirkan untuk menggeser hal yang lebih membingungkan.

Menghindari jalan yang entah kenapa masih saja ramai padahal hari Sabtu, aku memutuskan melewati area kampus yang sepi.

Saat itu, terlintas ide untuk kabur menemui sahabat SMA yang tentunya akan bisa memberikan solusi untuk hal yang aku bingungkan, namanya Aul. Semoga Aul di Jatinangor.

Sayang, Aul sedang di rumahnya di Depok. Depok terlalu jauh dan mahal diongkos. Maka, aku urungkan niatku untuk menemuinya. Namun, aku coba ungkapkan lewat huruf-huruf maya di layar ponsel, walau sepertinya gagal.

“Apa yang Ega pikirkan?” pertanyaan singkat namun teramat susah.

Entahlah. Seperti mau melepas seseorang pergi jauh.

Mungkin Aul tertawa membaca itu. Tapi seperti Aul yang biasanya, dia bilang, “Kadang, kita ga tau apa yang mau kita lepaskan. Dia ga pernah benar-benar datang.”


“Ega di mana?” Ajeng-lah yang masih ingat aku sedang sendirian di jalanan.

Makan bubur ayam di Mang Oyo.

Aku berharap ada teman seketika melihat meja-meja dipenuhi oleh orang-orang yang sepertinya berkeluarga. Ada yang berpasangan saja, ada yang membawa anak hingga cucu.

Aku duduk di pojokan. Sendirian. Ke mana sih mereka?

Tapi aku tak ingin terlalu berharap akan ada kawan yang menyusul ke sana. Sendiri saja, tak apa apa.

Lalu Ajeng tiba-tiba memberi kabar, “Oke aku ke sana.” Ajeng pun membuat aku berharap.

Ya, pilihanku hanya satu. Menunggu.

Lebih dari 30 menit aku hanya bercakap di dalam pikiran. Membuat skenario agar aku tidak kesepian di tengah riuh rendah mereka yang kursi samping-depannya tidak kosong.

Ajeng datang dengan penampilan yang siap jalan pagi. Aku hanya bisa tersenyum miris hehe.

“Mana Cahya Fadil? Sini kutelponin.”

Berkat telpon Ajeng, datanglah dua kawan lagi mengisi lengkap bangku di meja yang aku tempati dari sejam sebelumnya.

Walau Cahya hanya bisa sebentar, ngobrol sambil menyantap makan lalu pergi. Walau Fadil menyusul terlalu lama seperti biasanya… Dengan mereka aku punya obrolan yang punya suara.

Inilah obat keduaku di hari ini: ngobrol, yang paling enak ngobrolin masa depan yang bisa dikarang bebas.

Ajeng dan Fadil pun menemaniku sampai pukul 10 lebih.


Ajeng dan Fadil pergi mengendarai motornya masing-masing. Aku memilih jalan kaki. Ke mana?

Aku membuat janji bertemu dengan kakak kelas pukul 11. Aku pun memutuskan berputar-putar di Balubur Town Square, pusat perbelanjaan yang ramainya bisa aku tolerir. Padahal ini sudah kali kesekiian aku sini. Tapi ternyata, sudah tiga tahun aku di Bandung, ada toko yang tak pernah aku datangi.

Adalah toko buku impor bekas yang berada di antara Game Master dan Kiosk. Ya Allah, aku ga ngayal kan ya? Apa aku selinglung itu sampai ngayal ketemu toko buku ini?

Dan ternyata benar adanya, right thing comes in the right time. Aku menemukan toko ini hari ini untuk obat ketiga: buku.

Lucu memang. Toko itu kosong melompong. Mungkin karena pagi. Penjaganya pun tidak ada. Aku pun melihat buku yang diatur sesuai genre-nya.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah memuaskan kerinduanku untuk membaca buku-buku sastra. Seketika aku ingin memenuhi kerinduanku yang lain untuk sebuah memoir.

“Wait Till Next Year” menjadi pilihanku. Cukup tulisan kecil “A MEMOIR” di bawah judulnya membuat aku yakin, ini yang akan aku baca tuntas!


Siangku berlalu dengan obrolan santai bersama kakak kelas yang masih menaruh perhatiannya, ayam serundeng + es teh yang enak, dan perjalanan kembali ke kosan.

Aku pun menyempatkan tidur siang. Hujan yang membangunkanku sebelum pukul 4. Hujan cukup deras. Seperti yang aku pelajari di kelas Hidrologi, hujan yang intensitasnya tinggi (deras), durasinya pendek (sebentar).

Dan ya, intensitas pemikiranku yang terlalu tinggi ini hanya berlangsung sebentar.

Kini aku sudah bisa menulis. Merapikan pikiran. Dan aku juga sudah baca Wait Till Next Year hingga halaman 48. Sekarang aku ingin melanjutkannya.


Apa yang membuatku bingung, tanyamu?

Maksud seseorang menyampaikan kabar. Padahal muncul di pelupuk mata tidak pernah.

Aku bingung saja, kabar baru datang seenaknya padahal aku sedang memantapkan hati untuk berhenti bercerita.

Kadang kau harus ragu dulu sebelum akhirnya yakin, bukan? hahaha itu pembenaranku.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s