Semester 6: (2) Defeating


Ternyata butuh waktu lebih dari satu bulan untuk melanjutkan cerita semester 6 lalu. Saya sudah berjanji untuk bercerita tentang sisi lain semester 6, yaitu di luar kegiatan perkuliahan. Maaf baru bisa hari ini karena kegabutan hari terakhir KP.

Semester 6 ini berbeda karna banyak hal yang tidak saya rencanakan, termasuk surprise-surprise manis berkemahasiswaan hehehe

Semester 6 lalu berawal di Januari, saat saya tepat berusia 21 tahun. Tidak ada hadiah spesial, tetapi ada mereka yang membuat Januari itu semakin spesial.

Kuliah mulai pada tanggal 18 Januari. Pekan itu, saya mendapat kabar bahwa Bapak SBY akan datang ke ITB untuk menerima gelar doktor kehormatan. Saya langsung nge-tag untuk meliput acara itu yang akan berlangsung satu hari setelah saya ulang tahun hehehe It should be a late birthday present for myself!

Dulu, salah satu motivasi saya menjadi seorang reporter kampus adalah bisa menghadiri acara-acara penting kampus dan bertemu orang-orang inspiratif. Tapi saya tidak membayangkan bisa bertemu salah seorang yang saya kagumi sejak saya menonton iklan kampanye di TV, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejak 2004, waktu Pak SBY gencar berkampanye untuk jadi RI 1, saya jadi sering melihat “senyum” Pak SBY di TV. Entah apa yang membuat anak kelas 5 SD begitu terpikat dengannya. Saya melihat ketulusan dan keteduhan…

Mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Pak SBY membuat jantung saya berdebar kencang. Excited. Sedari pagi saya mempersiapkan outfit yang rapi untuk bertemu dengan Beliau (geer banget Meg, Meg, padahal cuma mau ngeliput)…

Sidang terbuka tersebut berlangsung di Aula Barat. Saya sebagai reporter resmi ITB mendapatkan akses yang mudah untuk masuk ke dalam. Saya stand by lebih kurang 40 menit sebelum acara dimulai. Hadir para petinggi ITB, politikus nasional, keluarga Pak SBY, dan banyak tamu undangan lainnya. Selain itu, hadir pula para wartawan dari berbagai media nasional dan lokal.

Saya duduk di kursi paling belakang, di deretan kursi sebelah kiri dari panggung. Saya sengaja duduk di sana, langsung berada di tepi jalan yang akan dilewati Pak SBY dari pintu masuk Aula Barat menuju panggung.

Saya ikuti prosesi sidang terbuka sampai akhir. Beberapa kali mondar-mandir untuk mendapatkan angle yang bagus untuk foto.

Karna tugas saya hari ini sebagai reporter, hanya menyadur isi pidato Pak SBY saja tidak membuat saya puas. Saya mencari cara, adakah kesempatan untuk mewawancarai Pak SBY secara langsung?

Ternyata setelah sidang terbuka berakhir, ada sesi selanjutnya yaitu makan siang di Aula Timur. Ternyata, acara ini inklusif dan tertutup untuk media. Saya yang memakai kemeja Kantor Berita ITB – Alhamdulillah – dibiarkan Bapak-Bapak Satpam memasuki Aula. (They were my heroes for the day)

Saat saya masuk, Pak SBY dan Bu Ani sedang sibuk berfoto dengan para tamu undangan. Saya berdiri di depan mereka. Hanya tiga langkah jaraknya. Ya Allah, sudah sedekat ini…….

Sehabis berfoto, Pak SBY bergegas masuk ruang backstage untuk berganti pakaian. Lah, saya belum wawancaraaaa….

Saya kemudian memutar pikiran… Nekat, saya mencegat Ibu Protokoler, “Bu, saya boleh wawancara Pak SBY ga ya habis ini?”

“Wah, Mbak. Pak SBY ga mau diwawancara katanya,” kata Ibu Protokoler.

“Kalau dari Pers Mahasiswa gitu Bu? Ga boleh juga?” saya ga bohong lo, saya berkeinginan untuk bikin video Ganeca Pos Documentary buat Pers Mahasiswa ITB. Ya, sekali ngeliput bisa buat dua-duanya lah, Kantor Berita dan Pers Mahasiswa hehe… biar adil!

“Mbak coba aja nanti. Tunggu saja di sini,” kata Ibunya, menyuruh saya sabar menunggu di depan pintu.

Deg. Pak SBY keluar….

“Pak SBY ga mau diwawancara, Mbak,” bodyguard Pak SBY langsung bilang ketika melihat saya membawa kamera.

Saya tidak mau mengalah.

“Dikit aja Pak mau minta testimoni.”

Pak SBY belum menggubris saya, masih sibuk menyambut salam beberapa orang yang menghampiri.

Beberapa detik kemudian Pak SBY menoleh ke arah saya. Deg, jantung ini berdebar.

“Pak boleh minta pesan buat mahasiswa ITB, Pak?”

Errr.. Lidah beribet. Ngomong aja ga jelas, Meg. Tenang Mega.. Tenang…

“Gimana gimana?” Pak SBY mencondongkan badannya ke arahku, ruangan Aula Timur memang sedang riuh.

“Pesan buat mahasiswa ITB, Pak?” pintaku sekali lagi.

“Ok ok. Satu dua kalimat saja ya…” ucap Pak SBY sambil langsung menatap ke arah lensa kameraku yang sudah stand by.

Pesan Pak SBY bisa dilihat di sini.

Setelah menyelesaikan pesannya, Pak SBY tersenyum ramah kepadaku… Ah… Senyumnya mengalihkan duniaku. Melihat senyum itu secara langsung, tidak di layar kaca lagi, membuat duniaku berhenti berputar sejenak (azek).

Saking linglung, salting, atau apalah namanya, aku bahkan tidak meminta kesempatan untuk berfoto dengan Beliau. Aku langsung keluar Aula Timur, tersenyum-senyum berjalan menuju sekre Kantor Berita ITB di TVST.

Mama sih yang paling “kesel” karena saya tidak berfoto dengan Pak SBY. Ya, saya ketawa-ketawa saja… “Grogi Ma, grogi…”

Videonya bisa dilihat di sini🙂

sby

Senyum Pak SBY menutup wawancara saya dengannya :’)

Tanggal 27 Januari, saya dan kawan-kawan Badan Pengurus Pers Mahasiswa ITB menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepada anggota unit kami itu. Tidak sampai satu tahun kami menjadi Badan Pengurus, tetapi kami memutuskan untuk turun pada bulan Januari agar sesuai dengan timeline periodisasi KM ITB.

Saya berharap pada hari itu kami “beps” yg totalnya tiga belas orang bisa hadir semua dan banyak kerabat persma yang menghadiri lpj.

Semua beps sudah confirm bisa datang walau ada yang harus izin keluar lebih dulu. At least I was happy kami semua bisa menyampaikan LPJ masing-masing. Seriously, I didn’t expect anything except we would gather, all of us.

Saya menjadi yang terakhir mempresentasikan lpj pada malam itu. Sejak saya mulai presentasi satu per satu orang izin keluar. Ya saya positive thinking saja mereka memang ada agenda lain di tempat lain. Eh ternyata…..

They prepared the sweetest surprise ever!

Jadi malu karena mereka yang menyiapkan hadiah bukannya saya yang memberi sesuatu kepada mereka karena bantuan mereka selama mengurus Persma…..

1453831629592

Beps❤

Thank you, guys. Honestly, I didn’t expect to be this close to each one of you. I am the one who can’t get close easily to people. Takes longer to make friends… Since high school ended, I thought it would be impossible to find close friends. I thought I might only find “partners” in finishing some projects or class together. But you guys made me prove that I was totally wrong. After all we’ve been through, you guys take parts in my best memories I’ve had in college.

At the end of my activities (setelah turun dari BP, saya tidak menjadi anggota yang aktif lagi), I can say that Persma is not only about journalism and all that campus-life issues, but way more than that….. They teach me how to defeat my ego… how to ask for help… to trust… and to make sure not only focus on what we want to achieve, but how to keep us together in our journey.

Mungkin seharusnya di semester 6, target di kampus “mau ngapain aja” jadi lebih jelas. Ada yang memantapkan diri mengabdi di himpunan, ada yang jadi pengurus setia unit, ada yang di kabinet, atau menjadi event organizer tertentu. Banyak pula yang fokus dalam suatu penelitian atau persiapan kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

Saya lepas dari kepengurusan di Persma di semester 6 ini. Saat itu masa transisi pula di himpunan dan di terpusat. Namun, target “mau ngapain di kampus” saya hanya sempat terpikir sampai di Persma. Saya tidak merencakan aktif di tempat lain. Ketika ditanya, “Habis persma mau ngapain, Ga?”, saya bingung.

Kegiatan di Persma dan Kantor Berita ITB (Alhamdulillah saya masih aktif di sana sampai sekarang) adalah zona nyaman saya. I don’t know where else to go. Berkali-kali saya menimbang, saya ga mau juga “nganggur” semester 6 ini. Beberapa ide gila muncul dan ajakan random datang, tapi berkali-kali pula saya menapiknya. “Ga akan sanggup, Meg. Bukan bidangmu,” begitu pikirku.

But again, I learn to defeat myself. To defeat my fear to get out of this comfort zone.

“Happiness only real when shared.”

Begitu bunyi quote favorite dari buku favorite saya, Into The Wild.

Di satu titik, saya berefleksi tentang bagaimana aktivitas kemahasiswaan sejauh ini meng-influence dan memberikan pelajaran bagi saya. Saya senang bisa bertemu banyak orang dan mengalami banyak hal yang membuka wawasan saya… Tapi apa lagi?

Di tahun terakhir untuk aktif di kemahasiswaan, apa lagi yang ingin saya cari? Tahun 2017 nanti saya ingin lulus tepat sehabis semester 8, in sya Allah Juli. Tentunya saya ingin fokus untuk menyelesaikan studi saya nantinya dan tidak akan lagi aktif di lembaga-lembaga KM ITB.

Lalu aktivitas apa yang baiknya saya lakukan di tahun 2016 ini?

 

Saya terbiasa menjadi orang yang meliput, menonton, mengkritisi… Itu mungkin karakter yang timbul setelah lama aktif jadi jurnalis kampus: nyaman berada di luar lingkaran orang-orang pengeksekusi sebuah kegiatan. Tapi saya sadar, saya tidak akan banyak belajar bila terus-terusan jadi pihak dari luar saja…

Alhamdulillah bersama-sama Beps saya mendapatkan pengalaman mengadakan beberapa acara… Tidak semuanya berhasil, tidak semuanya mencapai target. Tapi kerja sama lebih terasa memang ketika kita merancang dan menjalankan acara bersama-sama.

Begitu pula di himpunan. Di kepengurusan sebelumnya saya tidak terlalu aktif, hanya banyak memberikan masukan-masukan. Jika di forum himpunan, saya berusaha aktif menyampaikan pendapat.

But is it enough, never really get involve, be with the team and work together?

Saya harus mencoba “turut serta”. Tidak hanya jadi penonton, tetapi pemain.

Saya pun menemukan jawaban bahwa hal yang belum saya lakukan selama di kemahasiswaan adalah berbagi… sehingga, ide aktif di kaderisasi himpunan pun datang… Ini adalah tahun terakhir saya sebagai anggota aktif himpunan, saya harus berusaha meninggalkan sesuatu. Kesempatan pun ternyata membuat keinginan bersambut.

So here I am, menjadi bagian dari divisi Kaderisasi HMTL ITB. Semester 6 lalu, kami baru menyiapkan dan menyusun rencana terbaik untuk kader-kader baru HMTL. Eksekusinya in sya Allah semester depan… Mohon doanya🙂

I know I know.. Haha I am surprised myself that I got involved in this kind of activities, arranging osjur (jadi flashback cerita Semester 3 haha)… but yeah, sometime it’s not enough to only hope things happen from distance, but by giving your hands and time… And out of your own circle.

I learned that we have a part in ourselves that want to hold us back sometimes. Trust me, it feels good when you successfully defeat it.

 

The one who got defeated,

Mega

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s